<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-5500752660990257266</id><updated>2012-02-05T05:35:49.079-08:00</updated><category term='dunia kisah'/><category term='resensi'/><category term='dunia dongeng'/><category term='dunia saya'/><title type='text'>Dunia Dongeng &amp; Saya</title><subtitle type='html'>kehidupan dalam dongeng dan kehidupan saya :)</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://sitiannisaabp.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5500752660990257266/posts/default?max-results=100&amp;redirect=false'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sitiannisaabp.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>annisyuhuw</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16234192627606919427</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='12' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_-ZdJfOq5Qfo/TVOwV4HPgfI/AAAAAAAAADI/iCVz0b3X_C8/s220/Copy%2Bof%2Bjepreeet%2521%25211401.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>29</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5500752660990257266.post-7079870363365669679</id><published>2012-02-05T05:19:00.001-08:00</published><updated>2012-02-05T05:19:52.489-08:00</updated><title type='text'>Harimau dalam Perangkap</title><content type='html'>&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Dahulu kala, adalah sebuah desa kecil jauh diatas hutandigunung. Di hutan itu banyak sekali harimau berkeliaran, sehingga pendudukdesa selalu katakutan. Suatu hari, karenasemua penduduk desa itu semua sudahsangat ketakutan, mereka berkumpul di balai desa. Mereka ingin memecahkanmasalah ini, ingin bisa hidup tenang, tanpa selalu dibayangi ketakutan diterkamharimau. Kepala Desa memimpin pertemuan ini.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Setelah lama berunding, merekasepakat untuk menggali perangkap-perangkap harimau di sekitar desa. Semua orangdewasa di kampong itu kemudian gotong-royong membuat lubang-lubang yang dalamuntuk memerangkap harimau. Perangkap itu tersebar di seluruh desa, tetapipaling banyak ada di tepi jalan masuk desa, yang biasa dilalui harimau.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Suatu hari datanglah seorang penggembara ke desa itu. Iamendengar suara harimau merintih-rintih minta tolong. Didekatinya asal suara,dan dia melihat seekor harimau yang terperangkap dan sedang berusaha untukkeluar. Ketika melihat penggembara itu, harimau meminta pertolongan: “Bapakyang baik, bantulah saya keluar dari perangkap ini. Tolonglah saya. Kebaikanbapak tidak akan pernah saya lupakan.” Penggembara yang baik hati itu jatuhkasihan. Dia menghela batang kayu yang panjang, dan dimasukkan kedalam lubangperangkap yang dalam itu. Harimau kemudian dengan mudah bisa keluar. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Segera setelah bebas, harimau itu berkata kepada sangpenggembara. : ”Saya sangat berterimakasih atas pertolongan ini, tetapi karenamanusia membuat perangkap ini untuk menangkap saya, maka saya akan memangsamanusia seperti anda ini.”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Sang Penggembara sampai tak bisa bicara karena terkejut danketakutan. Tetapi dia berusaha tenang. Sambil mengumpulkan keberanian diaberkata: “Tunggu sebentar, saudara harimau. Kok kamu jadi begitu. Inikahbalasanmu atas pertolonganku? Ayo kita mencari keadilan. Kita cari beberapapihak untuk member pertimbangan.” Eh, tak dinyana ternyata harimau setuju.Keduanya menemui seekor serigala. Setelah mendengar pemaparan kasus itu,serigala berkata: “Menurutku manusia yang bersalah. Kami, serigala ini, dendamkepada manusia. Manusia selalu memburu serigala untuk kesenangannya, dankemudian membunuh serigala tanpa ampun. Apakah ini adil?”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Kemudian keduanya minta pertimbangan pohon pinus. Pohonpinus mendengarkan dengan seksama kejadian itu dan berkata: “Manusia salahkarena dari dulu menebang pohon pinus untuk perabotan dan kayu bakarmereka.&amp;nbsp; Manusia betul-betul tidak punyahati nurani.”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Setelah mendengar dua pendapat ini, si harimau sangatgembira, merasa dapat dukungan, dan bersiap-siap akan menerkam sangpenggembara. Tapi tiba-tiba muncul seekor kelinci besar. “Wow, kebetulansekali, kalinci. Cobalah berikan pendapatmu atas kasus kami ini,” kata sangpenggembara. Kelinci tersebut kemudian berkata: “Baiklah, tetapi sebelum akumemutuskan sesuatu, aku ingin melihat ‘tkp’, tempat kejadian perkara.”Demikianlah, mereka bertiga lalu menuju lubang tempat harimau terperangkap.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Kepada harimau kelinci berkata : “Aku harus tahu bagaimanaposisimu sebelum bapak pengembara ini menemukan dan menolongmu. Dimana kamusaat itu?” dengan segera harimau melompat ke dalam lubang perangkap. Kelincikemudian berkata : “Apakah batang pohon itu ada disini ketika kamu jatuhkedalam lubang ini, saudara harimau?”. “Tidak, batang pohon itu belum ada.”.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Kelinci dan sang pengembara menggotong batang kayu itukeluar lubang, dan kemudian berkata: “Bapak pengembara yang baik hati, cepatlahanda pergi sekarang!” Si kelinci pun cepat-cepat menjauhi lubang perangkap.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Moral dongeng ini adalah : Keadilan diputuskan oleh siapayang tidak berpihak. Juga harus berterimakasih kepada yang menolong. There isalso an implicit view than an individual ought to be treated as he is ratherthan as a member of group. This last point maybe the most important point in asociety which has a historically emphasized the notion of collective, asdistinct from individual, responsibility.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5500752660990257266-7079870363365669679?l=sitiannisaabp.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sitiannisaabp.blogspot.com/feeds/7079870363365669679/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sitiannisaabp.blogspot.com/2012/02/harimau-dalam-perangkap.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5500752660990257266/posts/default/7079870363365669679'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5500752660990257266/posts/default/7079870363365669679'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sitiannisaabp.blogspot.com/2012/02/harimau-dalam-perangkap.html' title='Harimau dalam Perangkap'/><author><name>annisyuhuw</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16234192627606919427</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='12' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_-ZdJfOq5Qfo/TVOwV4HPgfI/AAAAAAAAADI/iCVz0b3X_C8/s220/Copy%2Bof%2Bjepreeet%2521%25211401.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5500752660990257266.post-8944391596723044875</id><published>2011-09-21T05:34:00.000-07:00</published><updated>2012-02-02T01:19:18.896-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='dunia saya'/><title type='text'>backup sms di komputer ? gampang kok :D (aplikasi sony ericsson dan hp android)</title><content type='html'>&lt;i&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;i&gt;"hem aduh memory telepon udah penuh banget nih ga bisa nyimpen sms lagi. harus ngapus sms lagi deeh, mana banyak sms penting lagi dari si dia..."&lt;/i&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;suka bingung kalo memory sms udah kepenuhan ? ribet ngapusin sms ? banyak sms penting yang ga mau di hapus ?yah elaah udah ga jaman kali . nih ya gua kasih tau buat para pengguna hp sony ericsson dan android phone, kalian tuh bisa nyimpen sms di komputer . caranya ? gampang banget tinggal download aja MyPhoneExplorer&amp;nbsp;&lt;a href="http://www.fjsoft.at/en/downloads.php"&gt;disini&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ga pake lama ko karena memorynya cuma 4 MB . abis selesai download tinggal kalian install dan connect lewat kabel data atau bluetooth . setelah di connect&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt; (ga pake lama) semua sms, kontak, daftar panggilan , agenda kalian langsung masuk ke situ . cara backup nya tinggal klik aja panah biru di bagian atas (download entire) gampang kan ? sekarang ga perlu pusing lagi deh buat ngapus sms di hp , kan udah ada bakcup-annya . asiiiiiiiiiik :D&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;oiya apps ini bisa dipake buat symbian nokia juga loh , tapi harus udah ada pc suite nya dan connectnya harus pake kabel data :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;screenshot&amp;nbsp;(maaf banyak yang disensor , privasi hahaha :malu:)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-71_D6QIIMVk/TnnapoKZQeI/AAAAAAAAAJs/0qamtWo2ffw/s1600/myphoneexp.png" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="280" src="http://4.bp.blogspot.com/-71_D6QIIMVk/TnnapoKZQeI/AAAAAAAAAJs/0qamtWo2ffw/s400/myphoneexp.png" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-nbj3tOVyYyQ/TnnasuiUBAI/AAAAAAAAAJw/oNGDPapflOE/s1600/myphoneexp2.png" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="284" src="http://1.bp.blogspot.com/-nbj3tOVyYyQ/TnnasuiUBAI/AAAAAAAAAJw/oNGDPapflOE/s400/myphoneexp2.png" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-K-6sYs4lbG4/Tnnau09lF-I/AAAAAAAAAJ0/6QyZuBkXACw/s1600/myphoneexp3.png" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="280" src="http://1.bp.blogspot.com/-K-6sYs4lbG4/Tnnau09lF-I/AAAAAAAAAJ0/6QyZuBkXACw/s400/myphoneexp3.png" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;see you next time buddy ! :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5500752660990257266-8944391596723044875?l=sitiannisaabp.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sitiannisaabp.blogspot.com/feeds/8944391596723044875/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sitiannisaabp.blogspot.com/2011/09/backup-sms-di-komputer-gampang-kok-d.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5500752660990257266/posts/default/8944391596723044875'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5500752660990257266/posts/default/8944391596723044875'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sitiannisaabp.blogspot.com/2011/09/backup-sms-di-komputer-gampang-kok-d.html' title='backup sms di komputer ? gampang kok :D (aplikasi sony ericsson dan hp android)'/><author><name>annisyuhuw</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16234192627606919427</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='12' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_-ZdJfOq5Qfo/TVOwV4HPgfI/AAAAAAAAADI/iCVz0b3X_C8/s220/Copy%2Bof%2Bjepreeet%2521%25211401.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-71_D6QIIMVk/TnnapoKZQeI/AAAAAAAAAJs/0qamtWo2ffw/s72-c/myphoneexp.png' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5500752660990257266.post-5677380189506905751</id><published>2011-08-02T20:43:00.000-07:00</published><updated>2012-02-02T01:18:56.872-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='dunia saya'/><title type='text'>Part 2 : cerita indomie by : annisyuhuw</title><content type='html'>Kemarin malam , aku ga bisa tidur gara gara mikirin mos smanti. Mungkin karena saking semangatnya ya. Akhirnya aku mondar mandir di dalem rumah. Terus ibu aku keluar dari kamar. Aku bilang deh kalo aku ga bisa tidur. Akhirnya, mungkin karena ibu aku lagi baik, aku jadi dibikinin mie rebus rasa ayam special. Hem .. wanginya harum banget. Sambil nungguin aku makan, ibu aku cerita macem macem. Slah satunya, cerita tentang pertamakali ibuku nyobain indomie rebus. Waktu dulu, sekitar tahun 1986 , ibu aku pernah beli indomie di supermarket. Waktu itu, indomie belum ada iklannya. Mungkin karena belum terkenal kali ya.. Ibu aku penasaran tuh sama indomie. Akhirnya dia beli deh tuh indomie.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ibuku bingung tuh gimana cara masaknya. Lalu, dia asal masak aja. Indomienya di rebus, terus diaduk-aduk. Jadi deh indomie rebusnya. Pas dicobain… uuuuh rasanya nendang bangeeet sampe mental terus kejedot tembok. Ibuku benjol dikit siiih. Tapi, katanya rasanya tuh bener bener enak banget. Walaupun benjol, tetapi ibuku ga nyesel. Sampe sampe ibuku ketagihan deh sampe sekarang. Setiap minggu, pasti makan indomie rebus rasa ayam special sekali, indomie rebus rasa soto sekali, sama indomie goreng sekali. Jadi kalo diitung-itung jumlahnya makan indomie tiga kali seminggu. Ga ngelebihin batas maksimal kan ? makanya alhamdulillah ibuku sehat terus sampe sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akupun ngelanjutin makan. Nikmat bangeet daah. Apalagi mie rebus bikinan ibuku tuh mantep banget. Pake telor, bakso, tahu, dan sayur. Pasti langsung ngiler deeh kalo nyium harum mie masakan ibuku. Aduuh, aku jadi inget waktu pertama kali aku nyobain indomie…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-Flashback-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba tiba flashback ku jadi buyar gara-gara aku inget endingnya waktu pertamakali aku nyobain indomie, aku mencret tiga minggu. Gara-gara aku makan indomie 5x dalam sehari. Badanku jadi merinding. Emang ekstrim banget aku waktu itu. Saking baru bener-bener pertamakalinya nyobain indomie jadi kayak gitu. Abis rasanya enak banget sih, kan bukan salah aku kalo aku jadi pengen terus. Makanya sekarang aku jadi ga berani lagi makan indomie sebanyak itu. Walaupun pengalamannya kalo diinget bikin aku mules, tapi aku ga bisa trauma kalo udah makan indomie. Seburuk apapun pengalaman makan indomie, tetep aja pasti makan indomie terus. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini ceritaku, apa ceritamu?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5500752660990257266-5677380189506905751?l=sitiannisaabp.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sitiannisaabp.blogspot.com/feeds/5677380189506905751/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sitiannisaabp.blogspot.com/2011/08/part-2-cerita-indomie-by-annisyuhuw.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5500752660990257266/posts/default/5677380189506905751'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5500752660990257266/posts/default/5677380189506905751'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sitiannisaabp.blogspot.com/2011/08/part-2-cerita-indomie-by-annisyuhuw.html' title='Part 2 : cerita indomie by : annisyuhuw'/><author><name>annisyuhuw</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16234192627606919427</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='12' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_-ZdJfOq5Qfo/TVOwV4HPgfI/AAAAAAAAADI/iCVz0b3X_C8/s220/Copy%2Bof%2Bjepreeet%2521%25211401.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5500752660990257266.post-351634362516322820</id><published>2011-08-02T20:38:00.000-07:00</published><updated>2012-02-02T01:18:46.324-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='dunia saya'/><title type='text'>Part 1 : derita indomie by : annisyuhuw</title><content type='html'>nih readers waktu gue mos , gue disuruh bikin cerita dan derita indomie sebanyak 300 kata . gue tampilin disini yaaaa :) ini sepenuhnya buatan gue . enjoy :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;part 1 : Derita Indomie&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu itu, aku masih keciil banget. Kalo ga salah umur aku masih 3 tahun. Berarti kira-kira itu sekitar tahun 1999. Ibuku lagi hamil adeku. Ibuku lagi ngidam indomie rasa ayam bawang. Lalu, ibuku minta ke ayahku buat ngebeliin indomie di warung. Karena ga mungkin kan minta indomie di rumah sakit?&lt;br /&gt;Aku sama ayahku muter-muterin sekitar rumah sakit buat nyari warung yang jual indomie rasa ayam bawang. Susaaaah banget nyarinya. Tapi akhirnya ketemu juga warungnya. Agak jauh sih dari rumah sakitnya. &lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Tapi kata ayahku gak apa apa. Kan demi istri tercinta. Cieeee romantis banget yah ayahku ini.&lt;br /&gt;Ayahku mesen indomie rasa ayam bawang ke tukang warungnya. Terus dibikinin. Pas udah jadi, ayahku dan aku langsung ngibrit ke rumah sakit. yaudah deh kami menempuh perjalanan panjaaaang ke rumah sakit. pas udah nyampe lobby rumah sakit, tiba tiba ayahku mules. Ayahku langsung bertapa di kamar mandi. Terus di tinggalin deh di meja lobby. Aku perhatiin mie rebusnya. Masih panas. Keluar asep-asepnya gitu. Aku hirup aromanya. Heeeem bikin ngeces aja. Aku buka plastiknya. Aku cobain airnya. Wedaaaan manknyoos ternyata rasanya. Aku cobain lagi mienya. Manteeeep kenyel-kenyel enak bangeet. Terus aku pengen lagi. Akhirnya aku terusin ajaah makan mie rebusnya.  Abisnya enak siih. Eh ga kerasa mie nya abiiis! Gimana dong? Aku langsung mikir cepet (biasa, kalo abis makan emang mikirnya langsung cepet. Biasanya lola abisss) akhirnya aku buang aja deh tuh bungkus mie ke tempat sampah dan langsung menjauuuh dari meja lobby. &lt;br /&gt;Ayahku keluar dari kamar mandi. Terus nanyain mienya dimana. Aku bilang aja ga tau soalnya ga ngeliatin. Ayahku masih sabar. Akhirnya aku sama ayahku jalan lagi ke warung buat mesen indomie rebus lagi.&lt;br /&gt;Setelah selesai di pesen, ayahku sama aku balik lagi ke rumah sakit. ibuku pasti udah ngebet banget yak pengen ngelahap indomie.. yaudah deh kita jadi buru-buru. Tapi aku masih lapeeer. Aku ngeliat ayahku nyimpen mienya di kantong tas yang ga ada tutupnya. Aku comot aja deh, terus aku makan di perjalanan ke rumah sakit. anehnya ayahku ga ngeliat. Mungkin emang aku udah di takdirkan buat makan indomie terus kali ya. Akhirnya kita lima kali bulak-balik ke warung. Setelah kelima kalinya aku mules. aku mencret tiga minggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini deritaku, apa deritamu?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5500752660990257266-351634362516322820?l=sitiannisaabp.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sitiannisaabp.blogspot.com/feeds/351634362516322820/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sitiannisaabp.blogspot.com/2011/08/part-1-derita-indomie-by-annisyuhuw.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5500752660990257266/posts/default/351634362516322820'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5500752660990257266/posts/default/351634362516322820'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sitiannisaabp.blogspot.com/2011/08/part-1-derita-indomie-by-annisyuhuw.html' title='Part 1 : derita indomie by : annisyuhuw'/><author><name>annisyuhuw</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16234192627606919427</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='12' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_-ZdJfOq5Qfo/TVOwV4HPgfI/AAAAAAAAADI/iCVz0b3X_C8/s220/Copy%2Bof%2Bjepreeet%2521%25211401.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5500752660990257266.post-6638893778924447803</id><published>2011-07-12T02:54:00.000-07:00</published><updated>2012-02-02T01:18:30.891-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='dunia dongeng'/><title type='text'>Si Sigarlaki dan Si Limbat</title><content type='html'>Pada jaman dahulu di Tondano, hiduplah seorang pemburu perkasa yang bernama Sigarlaki. Tubuhnya tinggi, tegap. Kulitnya putih, rambut hitam, ikal. Wajahnya kelihatan galak, tetapi matanya ramah. Ia sangat terkenal dengan keahliannya menombak. Nyata dari bahunya yang bidang dan otot lengannya yang sangat menonjol, karena sering dilatih. Tidak satupun sasaran yang luput dari tombakannya. Bidikannya selalu tepat. Kalau cuma babi atau binatang buruan lainnya tak aneh. Terceritakan Sigarlaki pernah membidik burung gagak, dan kena! Diseantero negeri tak ada yang bisa mengalahkannya. Namanya tersohor ke segenap penjuru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tersebutlah Sigarlaki mempunyai seorang pelayan yang sangat setia. Namanya Limbat. Dia telah mengabdi dengan setia selama bertahun tahun. Patuh, santun, rajin. Hamper semua pekerjaan yang diperintahkan oleh Sigarlaki dikerjakan dengan baik oleh Limbat. Segala urusan beres. Dari masalah dalam rumah, jadi pengawal, sampai menguliti dan mengolah binatang buruan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun terkenal sebagai pemburu yang handal, pada suatu hari mereka tidak berhasil memperoleh satu ekor binatang buruan. Dari pagi sampai petang mereka berdua masuk keluar hutan, tidak seekorpun binatang buruan ditemui. “Belum pernah rasanya kita sesial ini. Kemana perginya semua binatang buruan?” kata Sigarlaki dengan mendongkol.&lt;br /&gt;“Sabarlah sedikit, Boss. Agak sore nanti mungkin kita dapat hasil,” kata Limbat menghibur majikannya. Ternyata sampai sore pun mereka tidak mendapatkan apa-apa. Mereka pulang dengan lelah dan kesal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Cepatlah siapkan makan malam, Limbat. Aku ingin segera istirahat,” kata Sigarlaki sesampai dipondoknya. Limbatpun bergegas kedapur. Alangkah terkejutnya dia ketika membuka tempat penyimpanan. Kosong! Rupanya daging persediaan mereka hilang. Entah dicuri orang atau dimakan binatang. “Wah, apa yang bisa aku persiapkan?” katanya dengan bingung. Dengan gugup Limbat menyatakan hal itu kepada majikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sigarlaki marah besar. Mungkin karena lelah, lapar dan kecewa. Segala sumpah serapah keluar dari mulutnya. Dia seolah kehilangan akal. Limbat terkejut. Tidak disangkanya akan berakibat begitu. Dia tertunduk lesu. Tetapi kepalanya cepat teragkat lagi ketika mendengar suara Sigarlaki yang menuduhnya mencuri daging persediaan mereka. “Pasti kamu yang mencurinya. Mana mungkin bisa hilang! Dasar pencuri!”&lt;br /&gt;Limbat sangat sedih dan terkejut mendengar tuduhan itu. Tidak pernah diduga majikannya akan tega menuduhnya sebagai pencuri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tuan, mana mungkin saya mencuri. Sudah bertahun-tahun saya mengabdi, pernahkah ada sesuatu yang hilang?” Sigarlaki makin kalap.&lt;br /&gt;“Begitu ya, sekarang coba buktikan bahwa kamu bukan pencurinya. Coba buktikan!”&lt;br /&gt;“Bagaimana saya harus membuktikannya?” Tanya Limbat.&lt;br /&gt;“Begini,” kata sang Pemburu “saya akan menancapkan tombak ini ke halaman itu. Kamu harus menyelam bersamaan. Bila tombak itu keluar lebih dulu dari kolam, berarti kamu tidak mencuri. Tetapi kalau kamu keluar lebih dulu, berarti kamulah pencurinya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aneh sekali cara pembuktian ini,” kata Limbat dalam hati. Tetapi dia tidak berani membantah. “Baiklah, Tuan!” Dia tidak takut bahkan sedikit geli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia merasa majikannya sudah kehilangan akal. Tetapi bagaimanapun juga ia berkehendak untuk membuktikan dirinya bersih.&lt;br /&gt;Lalu ia pun menyelam bersamaan dengan Sigarlaki menancapkan tombaknya. Byuuur! Tetapi, baru saja menancapkan tombaknya, tiba-tiba Sigarlaki melihat ada seekor babi hutan minum di kolam. Wah, ini mangsa bagus! Tentu saja ia tidak mau melewatkan kesempatan itu.&lt;br /&gt;Dengan segera ia mengangkat tombaknya dan dilemparkannya kea rah babi hutan itu. Siuut! Tetapi tombakan itu luput. Tapi Limbat menang kan, karena tombak keluar lebih dulu dari dirinya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi entak karena kesal atau licik, Sigarlaki tak meu mengakui kekalahan itu. Dia minta pembuktian ulang. “Ya baiklah,” kata Limbat dengan sedikit marah. “Saya ingin membuktikan behwa saya memang tidak bersalah.” Adegan pun diulang. Tombak ditancapkan, Limbat menyelam. &lt;br /&gt;Terjadilah ini: baru saja menancapkan tombaknya di kolam, tiba-tiba kaki Sigarlaki digigit oleh seekor kepiting besar. Iapun menjerit jerit kesakitan dan tidak sengaja mengangkat tombaknya. Dua kosong buat Limbat!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah, akhirnya si Limbat yang menang. Ia berhasil membuktikan dirinya tidak mencuri. Sedangkan Sigarlaki karena sembarangan menuduh, terkena hukuman digigit kepiting besar. Baru tahu rasa dia!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5500752660990257266-6638893778924447803?l=sitiannisaabp.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sitiannisaabp.blogspot.com/feeds/6638893778924447803/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sitiannisaabp.blogspot.com/2011/07/si-sigarlaki-dan-si-limbat.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5500752660990257266/posts/default/6638893778924447803'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5500752660990257266/posts/default/6638893778924447803'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sitiannisaabp.blogspot.com/2011/07/si-sigarlaki-dan-si-limbat.html' title='Si Sigarlaki dan Si Limbat'/><author><name>annisyuhuw</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16234192627606919427</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='12' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_-ZdJfOq5Qfo/TVOwV4HPgfI/AAAAAAAAADI/iCVz0b3X_C8/s220/Copy%2Bof%2Bjepreeet%2521%25211401.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5500752660990257266.post-1248322326211532997</id><published>2011-07-07T20:47:00.001-07:00</published><updated>2012-02-02T01:18:17.302-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='dunia dongeng'/><title type='text'>Impian Poni</title><content type='html'>Dibawah pohon rindang, seekor kuda putih kecil menatap langit. Sesekali ia memandang buku dongeng dihadapannya. Buku dongeng itu bergambar Pegasus, seekor kuda bersayap yang bisa terbang. Ya, impian Poni adalah terbang bebas diangkasa. ‘Kuda tidak akan pernah bisa terbang!’ Itulah yang selalu dikatakan teman-temannya. Tapi Poni yang sangat keras kepala tidak peduli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Poni sibuk memikirkan cara untuk terbang. Bagaimana ya?&lt;br /&gt;‘Aha, kalau punya sayap, aku pasti bisa terbang!’ seru Poni.&lt;br /&gt;Ia mengumpulkan ranting dan dedaunan yang jatuh. Tak lama kemudian dengan bangga Poni memakai sayap buatan dipunggungnya. Teman-teman menertawakan Poni. &lt;br /&gt;“Hahahahahaha! Apa yang kamu kenakan Poni?”&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;“Ini sayapku. Dengan sayap ini aku pasti bisa terbang,” sahut Poni penuh percaya diri.&lt;br /&gt;“Hahahahahaha! Percuma! Sudah kami bilang kuda tidak akan pernah bisa terbang.” Poni tidak peduli. Ia tidak sabar ingin mencoba sayap barunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Poni memejamkan matanya.&lt;br /&gt;‘Terbang! Terbang! Terbang!’ teriaknya sambil terus mengepakkan sayap.&lt;br /&gt;Poni membuka mata. Loh! Keempat kakinya masih menginjak tanah. Sayapnyapun tidak bergerak.&lt;br /&gt;‘Hahahahahaha! Sudah kami bilang kan?’ ledek teman-temannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Poni tidak menyerah. Sekali lagi ia memejamkan mata. Poni mengambil ancang-ancang dan melompat setinggi mungkin. &lt;br /&gt;Untuk sesaat Poni merasakan nikmatnya terbang bebas diudara. Poni berusaha mengepakkan sayapnya. &lt;br /&gt;Tapi sayapnya tidak bergeming. ‘Splasssshhh!.’&lt;br /&gt;Dalam sekejap keempat kakinya mendarat di tanah yang penuh lumpur. Tubuh putih Poni dilumuri lumpur coklat.&lt;br /&gt;‘Hahahahahaha! Sudahlah Poni, menyerah saja.’&lt;br /&gt;Teman-temannya tidak lelah mengejek dan menertawakan Poni. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Poni yang bersedih pergi menjauh dari teman-temannya.&lt;br /&gt;‘Hhhh! Mungkin memang benar apa yang dikatakan teman-teman. Seekor kuda tidak mungkin bisa terbang.’&lt;br /&gt;Tiba-tiba Poni melihat sarang berisi telur jatuh dari atas pohon. Tanpa berpikir panjang, Poni berlari sekencang mungkin.&lt;br /&gt;Tepat sebelum sarang telur menyentuh tanah, Poni berhasil menangkapnya. Ibu Burung sangat berterimakasih kepada Poni karena telah menyelamatkan telur-telurnya. Ibu Burung ingin memberikan hadiah kepada Poni. Poni pun membisikkan keinginannya pada Ibu Burung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu Burung menyuruh Poni menutup kedua matanya. Dan ketika membuka mata, terkejutlah Poni. Ia sedang terbang dilangit. Ia berdiri diatas sebuah karpet yang diterbangkan oleh ratusan burung. Akhirnya impian Poni menjadi nyata. Sementara itu teman-teman Poni tercengang melihat seekor kuda terbang diudara.&lt;br /&gt;‘Itu Poni! Poni terbang! Poni berhasil terbang!’ seru teman-temannya.&lt;br /&gt;Poni tersenyum dan meringkik ke arah teman-temannya. Hari ini adalah hari terindah bagi Poni. Jadi siapa bilang impian kita tidak bisa jadi nyata?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5500752660990257266-1248322326211532997?l=sitiannisaabp.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sitiannisaabp.blogspot.com/feeds/1248322326211532997/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sitiannisaabp.blogspot.com/2011/07/impian-poni.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5500752660990257266/posts/default/1248322326211532997'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5500752660990257266/posts/default/1248322326211532997'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sitiannisaabp.blogspot.com/2011/07/impian-poni.html' title='Impian Poni'/><author><name>annisyuhuw</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16234192627606919427</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='12' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_-ZdJfOq5Qfo/TVOwV4HPgfI/AAAAAAAAADI/iCVz0b3X_C8/s220/Copy%2Bof%2Bjepreeet%2521%25211401.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5500752660990257266.post-2748954294005398568</id><published>2011-07-02T05:37:00.000-07:00</published><updated>2011-07-02T05:48:21.736-07:00</updated><title type='text'>video clip of the day !</title><content type='html'>nih temen temen , gue pengen share salah satu video clip kesukaan gue :&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Big Time Rush - Boyfriend&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;iframe width="425" height="344" src="http://www.youtube.com/embed/fmNfjLZ3AB4?fs=1" frameborder="0" allowfullscreen=""&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;kalo mau download videonya &lt;a href="http://www.downloadconvertvideo.com/download2.php?v=fmNfjLZ3AB4&amp;amp;hq=5&amp;amp;title=Big+Time+Rush+Ft.+Snoop+Dogg+-+Boyfriend++%28Official+Music+Video%29"&gt;klik disini&lt;/a&gt; :D&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5500752660990257266-2748954294005398568?l=sitiannisaabp.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sitiannisaabp.blogspot.com/feeds/2748954294005398568/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sitiannisaabp.blogspot.com/2011/07/video-clip-of-day.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5500752660990257266/posts/default/2748954294005398568'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5500752660990257266/posts/default/2748954294005398568'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sitiannisaabp.blogspot.com/2011/07/video-clip-of-day.html' title='video clip of the day !'/><author><name>annisyuhuw</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16234192627606919427</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='12' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_-ZdJfOq5Qfo/TVOwV4HPgfI/AAAAAAAAADI/iCVz0b3X_C8/s220/Copy%2Bof%2Bjepreeet%2521%25211401.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://img.youtube.com/vi/fmNfjLZ3AB4/default.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5500752660990257266.post-1455889118651298401</id><published>2011-06-28T21:34:00.001-07:00</published><updated>2012-02-02T01:18:02.819-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='dunia saya'/><title type='text'>Belajar Main Gitar yuuuuuk !</title><content type='html'>haloooo semua , udah lama banget nih ga posting . soalnya gue ada UN jadi harus ekstra belajar hehe :D alhamdulillah hasil UN nya memuaskan nih , dan gue udah di terima di SMA N 3 .&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;oia , langsung aja sesuai judulnya , gue pengen banget belajar maen gitar elektrik . jadi , gua search basic basic buat main gitar elektrik . disini , gue pengen share yang gue dapet . ini dia :&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;ul type="disc"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 10pt;"&gt;hammer on&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 10pt;"&gt;: petik not awal(pertama) / not lebih rendah dengan cara picking(memetik dengan pick) lalu bunyikan not lebih tinggi dengan jari lain dengan tanpa picking lagi &lt;span style="color: red;"&gt;note : dari rendah ke tinggi&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div&gt;&lt;ul type="disc"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 10pt;"&gt;pull off&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 10pt;"&gt;: tempatkan jari bersamaan pada not-not yang akan dibunyikan. Petik not awal, tarik jari pertama anda(yang memetik not awal) untuk membunyikan not berikutnya &lt;span style="color: red;"&gt;note : dari tinggi ke rendah&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;ul type="disc"&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;iframe allowfullscreen="" frameborder="0" height="344" src="http://www.youtube.com/embed/fMnjnIOM2fQ?fs=1" width="425"&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul type="disc"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 10pt;"&gt;slide&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 10pt;"&gt;: petik not awal, geser jari pada not berikutnya (lebih rendah atau tinggi).&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 10pt;"&gt;Ada&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 10pt;"&gt;dua slide disini, pertama: tanpa memetik not berikutnya (sekali petik 2 not), kedua: dengan memetik not berikutnya (dua petik, 2 not)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;ul type="disc"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 10pt;"&gt;pick slide&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 10pt;"&gt;: bunyikan not dengan memakai sisi pick, sehingga muncul suara gerit/seret(scratch)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;iframe allowfullscreen="" frameborder="0" height="344" src="http://www.youtube.com/embed/y4_wjNRLe4M?fs=1" width="425"&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul type="disc"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 10pt;"&gt;tapping&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 10pt;"&gt;:&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 10pt;"&gt;dengan ujung jari telunjuk atau tengah ketuklah not yang ingin dibunyikan pada fretboard&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;iframe allowfullscreen="" frameborder="0" height="344" src="http://www.youtube.com/embed/-51iHvqP0Rs?fs=1" width="425"&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul type="disc"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 10pt;"&gt;trill&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 10pt;"&gt;: selang-seling dengan cepat antara not awal dan kedua memakai hammer on dan pull off&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;iframe allowfullscreen="" frameborder="0" height="344" src="http://www.youtube.com/embed/DFqQmvQdUC8?fs=1" width="425"&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul type="disc"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 10pt;"&gt;bend&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 10pt;"&gt;: tekan kuat jari kiri pada fretboard kemudian naikkan jari anda hingga nada yang dihasilkan menjadi naik&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;ul type="disc"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 10pt;"&gt;bend and release&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 10pt;"&gt;: petik, bending hingga nadanya naik 1/2 atau 1, kemudian balik lagi ke nada awalnya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;ul type="disc"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 10pt;"&gt;pre bend&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 10pt;"&gt;: bending dulu hingga nadanya naik 1/2 atau 1, baru dipetik&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;ul type="disc"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 10pt;"&gt;pre bend and release&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 10pt;"&gt;: bending dulu hingga nadanya naik 1/2 atau 1, petik, bending lagi hingga bunyinya balik ke not awal&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;ul type="disc"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 10pt;"&gt;unison bend&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 10pt;"&gt;: bending dua buah not bersamaan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;iframe allowfullscreen="" frameborder="0" height="344" src="http://www.youtube.com/embed/DFqQmvQdUC8?fs=1" width="425"&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul type="disc"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 10pt;"&gt;vibrato&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 10pt;"&gt;: efek getar, dengan bending, getarkan senar dengan bending naik turun secara cepat, bisa dengan tangan kiri atau memakai tremolo/whammy bar&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;ul type="disc"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 10pt;"&gt;wide atau exaggerated vibrato&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 10pt;"&gt;: bending naik turun lebih kuat lagi dari vibrato bias&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;iframe allowfullscreen="" frameborder="0" height="344" src="http://www.youtube.com/embed/-KMrR_LqrOE?fs=1" width="425"&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul type="disc"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 10pt;"&gt;natural harmonic&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 10pt;"&gt;: bunyikan not dengan menyentil(menyentuh ringan) dengan jari kiri hingga berbunyi seperti lonceng "ting"&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;ul type="disc"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 10pt;"&gt;artificial harmonic&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 10pt;"&gt;: bunyikan not dengan seperti biasa, cuman pada picking tangan kanan iringi dengan sisi jempol, atau pucuk jari telunjuk, dengan volume atau tingkat efek distorsi tinggi akan menghasilkan bunyi decit harmonic&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;ul type="disc"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 10pt;"&gt;tremolo bar&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 10pt;"&gt;: memakai tremolo/whammy bar, turunkan not pada tablature sejauh yang ditunjukkan, lalu balikkan lagi ke not awalnya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;ul type="disc"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 10pt;"&gt;palm muting&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 10pt;"&gt;: diamkan not yang bersuara dengan telapak tangan kanan(bagi left handed guitarist)/kiri(bagi right handed guitarist)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;ul type="disc"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 10pt;"&gt;muffled strings&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 10pt;"&gt;: letakkan jari dengan tanpa menekan terlalu kuat pada fretboard sehingga menghasilkan sound percussive&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;segitu dulu yaaah , moga bermanfaat guys :D&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5500752660990257266-1455889118651298401?l=sitiannisaabp.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sitiannisaabp.blogspot.com/feeds/1455889118651298401/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sitiannisaabp.blogspot.com/2011/06/belajar-main-gitar-yuuuuuk.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5500752660990257266/posts/default/1455889118651298401'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5500752660990257266/posts/default/1455889118651298401'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sitiannisaabp.blogspot.com/2011/06/belajar-main-gitar-yuuuuuk.html' title='Belajar Main Gitar yuuuuuk !'/><author><name>annisyuhuw</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16234192627606919427</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='12' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_-ZdJfOq5Qfo/TVOwV4HPgfI/AAAAAAAAADI/iCVz0b3X_C8/s220/Copy%2Bof%2Bjepreeet%2521%25211401.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://img.youtube.com/vi/fMnjnIOM2fQ/default.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5500752660990257266.post-4513387012083466670</id><published>2011-03-01T23:27:00.000-08:00</published><updated>2012-02-02T01:17:40.215-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='dunia saya'/><title type='text'>Share: Cara Menghilangkan Waktu Tunggu di 4shared</title><content type='html'>Kawan-kawan yang seneng banget download lagu, video dsb pasti doyannya nyomot dari 4shared kan ?&lt;br /&gt;Tapi pasti pada paling males kalo nuggunya luamaaaa banget, kalo 12 detik, 20 detik sih masih mending. Waktunya ga kesita banyak. Gimana kalo yang ini ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-IpDCZIUxKGY/TW3x_odq2_I/AAAAAAAAAEA/rsBkDR7f4AI/s1600/nunggu%2B4shared.jpg"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5579381588877827058" src="http://4.bp.blogspot.com/-IpDCZIUxKGY/TW3x_odq2_I/AAAAAAAAAEA/rsBkDR7f4AI/s200/nunggu%2B4shared.jpg" style="cursor: pointer; display: block; height: 132px; margin: 0px auto 10px; text-align: center; width: 200px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Whaaaat? 320 detik ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iya, karena kita download file yang isinya 6MB . bayangin.. baru 6MB aja udah disuruh nunggu 320 detik , gimana kalo lebih gede lagi …..&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah gimana cara ngilangin tuh waktu tunggu ? ternyata , caranya guaaaaampang edan .. kalian tinggal masukin ini aja ke URL address :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;blockquote&gt;javascript:alert(c=0)&lt;/blockquote&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;disini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-_2NSYSwHSLg/TW3yTjkn9OI/AAAAAAAAAEI/SKqvAKRNV-0/s1600/URL%2B4shared.jpg"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5579381931162203362" src="http://1.bp.blogspot.com/-_2NSYSwHSLg/TW3yTjkn9OI/AAAAAAAAAEI/SKqvAKRNV-0/s200/URL%2B4shared.jpg" style="cursor: hand; cursor: pointer; display: block; height: 26px; margin: 0px auto 10px; text-align: center; width: 200px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selesai deh , tuh 320 detik langsung mati , hurrrrraaaaaay …&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nb: kalo keseringan make javascript itu , ntar lama-lama javascriptnya ga bekerja lagi alias kita harus menunggu dengan sabar :)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5500752660990257266-4513387012083466670?l=sitiannisaabp.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sitiannisaabp.blogspot.com/feeds/4513387012083466670/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sitiannisaabp.blogspot.com/2011/03/share-cara-menghilangkan-waktu-tunggu.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5500752660990257266/posts/default/4513387012083466670'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5500752660990257266/posts/default/4513387012083466670'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sitiannisaabp.blogspot.com/2011/03/share-cara-menghilangkan-waktu-tunggu.html' title='Share: Cara Menghilangkan Waktu Tunggu di 4shared'/><author><name>annisyuhuw</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16234192627606919427</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='12' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_-ZdJfOq5Qfo/TVOwV4HPgfI/AAAAAAAAADI/iCVz0b3X_C8/s220/Copy%2Bof%2Bjepreeet%2521%25211401.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-IpDCZIUxKGY/TW3x_odq2_I/AAAAAAAAAEA/rsBkDR7f4AI/s72-c/nunggu%2B4shared.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5500752660990257266.post-6935598782031814789</id><published>2011-02-26T23:11:00.000-08:00</published><updated>2012-02-02T01:17:23.252-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='dunia dongeng'/><title type='text'>Burung Hantu yang Bijaksana</title><content type='html'>Pada jaman dahulu kala di Negeri Putih yang aman tenteram, hiduplah Kaisar Putih yang terkenal sangat bijaksana dalam mengambil keputusan. Rakyat Negeri Putih sangat menyayanginya. Satu-satunya yang tidak menyukai keadaan damai itu adalah Perdana Menteri karena Kaisar tidak pernah mau berdiskusi dengannya dalam mengambil keputusan. Dia merasa diacuhkan dan iri pada kebijaksanaan dan kepopuleran kaisar. Dia juga ingin disayangi oleh rakyat Negeri Putih sehingga timbul niat untuk mencari dan mencuri rahasia kebijkasanaan Kaisar. Dia pun mengamat-amati dan mengikuti Kaisar kemanapun pergi.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu malam bulan sabit, Perdana Menteri mengikuti Kaisar Putih ke sebuah hutan. Di tengah-tengah hutan itu ada sebuah pohon yang sangat besar. Kaisar menyiulkan nada tertentu dan terdengar dari atas pohon. &lt;br /&gt;“Ada apa, anakku?” kata suara itu, terdengar berat dan dalam.&lt;br /&gt;“Burung Hantu yang bijaksana, tolong berilah petunjuk bagi anakmu ini. Desa Ungu yang jauh letaknya dari sini dirampok oleh pengembara dari negeri asing yang jauh. Untuk mengusut kasus ini dan menolong mereka, kita harus mengeluarkan dana yang cukup besar karena letaknya yang jauh. Padahal desa itu hanya sedikit menyumbang Kas Negeri. Tidakkah itu akan merugikan kita? Apa yang harus kita lakukan, Burung Hantu yang Bijaksana?” tanya Kaisar Putih.&lt;br /&gt;“Desa Ungu adalah bagian dari Negeri ini. Sudah tugas Negeri untuk melindungi siapapun di Negerinya. Kirimlah tentara-tentaramu ke Desa Ungu untuk membantu mereka. Lalu tanyakan juga maksud pengembara dari negeri asing itu, kenapa mereka berbuat kejahatan. Jika memungkinkan, jadikan mereka penduduk Negeri ini dan beri mereka pekerjaan supaya mereka tidak merampok lagi.” Demikian jawaban suara Burung Hantu yang Bijaksana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perdana Menteri mendengar itu semua dengan senang. Sekarang dia sudah tahu apa rahasia kebijaksanaan Kaisar. Timbul akal licik dari dalam diri Perdana Menteri. Dia tahu seorang Kaisar tidak akan bertahan lama jika tidak dipercaya oleh rakyatnya. Dan rakyatnya tentu akan berhenti percaya padanya kalau Kaisar mengeluarkan keputusan-keputusan yang salah dan tidak masuk akal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perdana Menteri memutuskan untuk menclik burung hantu tersebut dan menggantinya dengan burung hantu palsu yang akan menyesatkan Kaisar sementara dialah yang akan berkonsultasi dengan burung hantu itu untuk merebut kepercayaan rakyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka pada bulan sabit berikutnya ketika Kaisar Putih datang, burung hantu palsu menyambutnya.&lt;br /&gt;“Burung Hantu yang Bijaksana, panen Desa Hijau gagal sehingga mereka tidak bisa membayar pajak bulan ini. Apa yang harus kulakukan?” tanya Kaisar Putih.&lt;br /&gt;“Rakyat yang baik harus mau berkorban untuk kepentingan Rajanya. Mereka tetap harus membayar pajak. Jika mereka menolak, ancam mereka,” jawab burung hantu palsu tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar ini Kaisar Putih kenbingungan. Baginya jawaban burung hantu tidak terasa bijaksana seperti sebelumnya. Karena burung hantu selalu berkata bahwa seorang Kaisar harus mengorbankan diri untuk kepentingan rakyatnya.&lt;br /&gt;“Tapi Burung Hantu yang Bijaksana, tidakkah itu akan membebani rakyat?” tanya Kaisar. &lt;br /&gt;“Tidak. Mereka kan selama ini sudak sering kamu manjakan dengan pajak rendah dan harga barang yang tidak mahal. Mereka sudah sejahtera hidupnya dan pasti sudah punya banyak uang untuk membayar pajak. Malah menurutku pajak harus dinaikkan,” jawab burung hantu palsu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaisar makin bingung mendengar ini. Tapi burung hantu tidak memberi banyak kesempatan untuk bertanya sehingga Kaisar harus pulang dengan hati bingung. Selama ini dia selalu mengikuti kata-kata burung hantu tanpa pernah mempertanyakannya. Dia selalu percaya pada burung hantu itu. Akhirnya ketika pagi tiba, kaisar memutuskan untuk menuruti kata-kata burung hantu palsu itu. Dia menaikkan pajaknya dan memaksa Desa Hijau membayar pajak mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Desa Hijau pun kebingungan mengapa Kaisar yang selama ini baik hati dan selalu memahami mereka dengan teganya malah menaikkan pajak ketika mereka sedang kesulitan. Tapi mereka percaya pada Kaisar dan berusaha mengikuti peraturan baru tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya Kaisar terus mengikuti  nasihat burung hantu palsu walau dia sudah mulai merasa nasihat-nasihatnya tidak masuk akal. Lama kelamaan rakyat mulai tidak percaya dan mulai timbul pemberontakan-pemberontakan kecil. Sementara itu, Perdana Menteri mulai dipercaya oleh rakyat karena dia sering memberi pidato-pidato yang bijaksana berkat nasihat burung hantu yang asli. Kaisar betul-betul kebingungan.&lt;br /&gt;Pada malam bulan sabit berikutnya, Kaisar Putih bercerita kepada burung hantu palsu tentang isu pemberontakan yang akan terjadi dalam waktu dekat.&lt;br /&gt;“Wah! Rakyat tidak boleh dibiarkan merajalela. Kalau mereka menyerang istana, perintahkan saja tentaramu untuk membunuh mereka semua. Rakyat yang tidak setia tidak boleh hidup di negaramu supaya tenteran Negara ini tanpa pemberontakan,” demikian nasihat burung hantu palsu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu Kaisar pulang ke istana dengan bingung. Keesokan paginya dia dibangunkan oleh suara keras. Ternyata rakyat negaranya sudah sampai di gerbang istana. Mereka menuntut Kaisar untuk mendengarkan suara hati mereka. Kaisar teringat pada nasihat burung hantu kemarin. Kaisar merasa nasihat burung hantu itu salah, tapi untuk mengambil keputusan yang bertentangan Kaisar tidak berani dan tidak percaya diri. Dia takut keputusannya sendiri yang salah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara rakyat di depan gerbangnya semakin nyaring. Kaisan naik ke atas menara dan melihat mereka berduyun-duyun datang meminta keadilan. Betapa terkejutnya Kaisar, mereka terlihat begitu kurus. Padahal dulu ketika dia rajin menemui mereka, tubuh mereka terlihat sehat dan berseri-seri. Trenyuh hati Kaisar dan merasa keputusan burung hantu akhir-akhir ini betul-betul salah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya pagi itu Kaisar mengambil keputusan yang bertentangan dengan nasihat burung hantu malam sebelumnya. Dia membuka pintu gerbang istananya dan menyapa rakyatnya. Rakyatnya menyampaikan tuntutan-tuntutan mereka dengan marah tapi mereka senang Kaisar mau menemui mereka di gerbang istana dan mengundang mereka masuk. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu adalah kali pertamanya Kaisar menentang nasihat burung hantu dan mengambil keputusan berdasarkan hati dan pikirannya sendiri. Melihat antusiasme rakyat dan keluhan-keluhan mereka, kaisar mulai memutar otaknya sendiri untuk menemukan pemecahannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat itu Perdana Menteri datang untuk melihat keadaan dan tiba-tiba Kaisar teringat betapa bagusnya pidato-pidato Perdana Menteri akhir-akhir ini. Maka Kaisar mengajak Perdana Menteri berdiskusi bersama. Perdana Menteri yang senang karena akhirnya pendapatnya diperhatikan oleh Kaisar pun ikut membantu memecahkan masalah Negara dan melupakan niat jahatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu Burung Hantu yang Bijaksana yang asli tersenyum di balik jeruji sangkar tempatnya dikurung oleh Perdana Menteri. Burung Hantu yang Bijaksana itu ternyata sudah bisa menebak kalau dia akan ditangkap oleh Perdana Menteri tapi dia sengaja membiarkan dirinya ditangkap supaya Kaisar bisa belajar mempercayai hati dan pikirannya sendiri daripada terlalu mempercayainya. Selama dikurung oleh Perdana Menteri, Burung Hantu yang Bijkasana juga memberikan nasihat-nasihat kepada Perdana Menteri sehingga sekarang dia tidak lagi licik. Sekali lagi Negeri Putih mendapatkan kedamaian dan ketentraman, tapi kali ini dengan Kaisar dan Perdana Menteri yang benar-benar bijaksana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan cermat burung hantu itu mematuk-matuk bagian tertentu dari pintu sangkarnya sehingga sebentar saja pintu itu terbuka lebar. Dalam hitungan detik, dia sudah bebas beterbangan di langit malam yang luas. Sekarang dia akan mencari tempat lain yang memerlukan kebijaksanaannya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5500752660990257266-6935598782031814789?l=sitiannisaabp.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sitiannisaabp.blogspot.com/feeds/6935598782031814789/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sitiannisaabp.blogspot.com/2011/02/burung-hantu-yang-bijaksana.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5500752660990257266/posts/default/6935598782031814789'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5500752660990257266/posts/default/6935598782031814789'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sitiannisaabp.blogspot.com/2011/02/burung-hantu-yang-bijaksana.html' title='Burung Hantu yang Bijaksana'/><author><name>annisyuhuw</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16234192627606919427</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='12' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_-ZdJfOq5Qfo/TVOwV4HPgfI/AAAAAAAAADI/iCVz0b3X_C8/s220/Copy%2Bof%2Bjepreeet%2521%25211401.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5500752660990257266.post-6040514688018897091</id><published>2011-02-26T20:23:00.000-08:00</published><updated>2012-02-02T01:17:10.463-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='dunia kisah'/><title type='text'>Kisah : Assalamu'alaikum, damai atas dirimu</title><content type='html'>Suatu hari Rasulullah SAW sedang duduk bercengkrama dengan para sahabat. Lalu, masuklah seorang laki-laki taanpa minta izin, tanpa mengucapkan salam. &lt;br /&gt;"Mengapa kamu tidak mengucapkan Assalamu'alaikum?" Rasulullahh SAW bertanya, "Mengapa kmu tidak minta izin untuk masuk?"&lt;br /&gt;"Keluarlah lagi. Mintalah izin dulu dan ucapkan Assalamu,alaikum sebelum masuk," perintah Rasulullah SAW.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai Salaam ini, Rasulullah SAW menjelskan panjang lebar:&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;"Wahai kaum Muslim. Kalian tidak akan masuk surga, jika kalian tidak bersikap baik kepada sesama, jika kalian tidak saling mengucapkan salaam bila bertemu. Ucapkanlah Salaam terlebih dulu dan karenanya Allah juga melimpahkan rahmatnya."&lt;br /&gt;"Ketika berbicara, pertama-tama ucapkanlah Assalamu'alaikum dulu,baru kemudian katakan apa yang akan kalian sampaikan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Catatan :&lt;br /&gt;Salaam adalah kata dari bahasa Arab yang berarti kedamaian dan sambutan hangat, yang diucapkan kaum Muslim dalam kehidupan sehari-hari seuai ajaran Islam.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sumber : ORBIT&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5500752660990257266-6040514688018897091?l=sitiannisaabp.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sitiannisaabp.blogspot.com/feeds/6040514688018897091/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sitiannisaabp.blogspot.com/2011/02/kisah-assalamualaikum-damai-atas-dirimu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5500752660990257266/posts/default/6040514688018897091'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5500752660990257266/posts/default/6040514688018897091'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sitiannisaabp.blogspot.com/2011/02/kisah-assalamualaikum-damai-atas-dirimu.html' title='Kisah : Assalamu&apos;alaikum, damai atas dirimu'/><author><name>annisyuhuw</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16234192627606919427</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='12' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_-ZdJfOq5Qfo/TVOwV4HPgfI/AAAAAAAAADI/iCVz0b3X_C8/s220/Copy%2Bof%2Bjepreeet%2521%25211401.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5500752660990257266.post-3968415152826463624</id><published>2011-02-26T05:32:00.000-08:00</published><updated>2012-02-02T01:16:51.327-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='dunia saya'/><title type='text'>Tips : Jangan Gunakan Posisi Ini Saat Buang Air Besar! ^^</title><content type='html'>Gak cuman makan doank ada aturannya… Buang air besar atau yang sering kita sebut Eek atau Boker juga ada aturannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Mau tau aturannya? Nih dia…&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://a5.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/184797_1593343513478_1232636416_1298945_2666104_n.jpg"&gt;&lt;img alt="" border="0" src="http://a5.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/184797_1593343513478_1232636416_1298945_2666104_n.jpg" style="cursor: hand; cursor: pointer; display: block; height: 640px; margin: 0px auto 10px; text-align: center; width: 448px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut posisi yang baik dan benar :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Posisi Awal&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merupakan sikap sempurna dengan tekad yang kuat dan tulus sesorang yg hendak melakukan buang air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Tegapkan badan dengan kedua tangan lurus disamping pinggang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Kumpulkan niat ikhlas dan katakan: “saya bisa mengeluarkan mu sobat”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Tunjukkan kasih sayang seorang manusia kepada eeknya (tapi sebaiknya jangan kecup kening eek mu sendiri)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Posisi Yang Benar&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Posisi ini adalah posisi yang layak dijadikan suri tauladan dalam melakukan buang air besar. Posisi ini akan membawa berkah dan rejeki bagi penirunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Duduk manis dengan senyum yang sumringah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Letakan tangan kiri diatas dengkul dan tangan kanan melakukan gerakan ular (relaksasi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Ingat selalu, ‘pantat adalah teman’ dan ikhlaskan boker anda memasuki lembar kehidupan baru dengan petualangan yang liar dan mendebarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;Berikut posisi yang salah dan sangat tidak dianjurkan :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Disorientasi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Posisi ini merupakan kesalahpahaman antara pantat dan otak kiri anda, atau mungkin dengan kejiwaan anda. Anda meletakkan pantat tidak pada tempatnya melainkan ditampungan aer diatas kloset. Hal ini akan menciptakan konflik antara anda pantat anda dan orang tua anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibatnya :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. eek anda akan gepeng,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. eek anda tidak sampai ke tujuan dengan selamat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. anda akan membersihkan eek anda dikemudian hari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Closet Phobia&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyakit posisi ini adalah tekanan batin atas pengalaman buruk yang sudah terjadi antara anda dan pantat anda dengan closet. Misalkan pernah ada tangan keluar dari kloset dan merenggut semua eek dan kremi anda sampai tak bersisa. Atau anda pernah kehilangan sahabat karena kloset.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibatnya :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Tercecernya eek anda&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Closet anda cepat lambat akan tersinggung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kick The Wall&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Posisi ini memang membuat anda terlihat kuat dan gagah. Namun, posisi ini akan meningkatkan kontraksi otot dubur anda, yang membuat ligamen dan streoponijiko dan bridal anda menjadi melebar. Akhirnya hasil eek yang keluar tidak akan bagus dan menarik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibatnya :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Eek yang dihasilkan menjadi tidak bagus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Tembok anda menjadi rusak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kayang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Posisi ini memang meningkatkan akurasi anda dalam mengirim eek ada ke kloset. Disamping itu badan anda akan menjadi lebih bugar. Namun, sulit bagi anda untuk melihat secara langsung eek anda yang keluar. Hal ini membuat sebuah tembok pemisah antara anda dan eek anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibatnya : Renggangnya hubungan anda dengan eek anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga anda buang air dengan sewajarnya, gunakan selalu sabun, hindari keinginan untuk menunda cebok dan hindari juga rasa penasaran akan rasanya eek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sumber : http://gugling.com/jangan-gunakan-posisi-ini-saat-buang-air-besar.html&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5500752660990257266-3968415152826463624?l=sitiannisaabp.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sitiannisaabp.blogspot.com/feeds/3968415152826463624/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sitiannisaabp.blogspot.com/2011/02/tips-jangan-gunakan-posisi-ini-saat.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5500752660990257266/posts/default/3968415152826463624'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5500752660990257266/posts/default/3968415152826463624'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sitiannisaabp.blogspot.com/2011/02/tips-jangan-gunakan-posisi-ini-saat.html' title='Tips : Jangan Gunakan Posisi Ini Saat Buang Air Besar! ^^'/><author><name>annisyuhuw</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16234192627606919427</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='12' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_-ZdJfOq5Qfo/TVOwV4HPgfI/AAAAAAAAADI/iCVz0b3X_C8/s220/Copy%2Bof%2Bjepreeet%2521%25211401.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5500752660990257266.post-928406972967055879</id><published>2011-02-24T21:22:00.000-08:00</published><updated>2012-02-02T01:16:32.458-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='dunia dongeng'/><title type='text'>Sepatu Ajaib</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Disadur oleh Riguntari Kurniawati&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dahulu kala hiduplah seorang raksasa yang sangat besar bernama Gros-Tonneau. Raksasa jahat ini tinggal di dalam sebuah hutan yang sangat lebat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak jauh dari hutan, terdapat sebuah desa bernama Saint-gigot. Gros-Tonneau sering datang ke desa ini apabila lapar. Penduduk desa selalu merasa ketakutan jika melihatnya mendekat. Mereka berlarian pontang-panting dan berteriak minta tolong. Akan tetapi mereka selalu tidak punya waktu untuk menyelamatkan diri karena sang raksasa memakai sepatu ajaib yang bisa berlari dengan sangat cepat. Hanya dengan 3 hop, hop, hop! Mereka sudah terkejar! Dan dengan tangannya yang besar, ia akan menangkap beberapa orang yang dibawanya kerumah sebagai santapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari, tanah terasa bergetar dan tiba-tiba terdengar penduduk desa berteriak: “Tolong, Gros-Tonneau datang…!” Akan tetapi hari itu penduduk desa dibuat heran, karena Gros-Tennau tidak menangkap mereka melainkan berjalan lurus menuju rumah si tukanhg sepatu dan berkata: “Perbaiki sepatuku! Sepatuku rusak! Kalau dalam waktu 4 hari sepatuku belum selesai, aku akan memakanmu!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si tukang sepatu ketakutan dan menjawab tergagap: “Ba…baik, tuan Gros-Tennau!” Setelah mengancam, sang raksasapun berlalu. Setelah ia pergi, para penduduk mendatangi si tukang sepatu dan membujuknya: “Tolong, buanglah kekuatan yang ada pada sepatu itu, agar dia tidak bisa mengejar kita lagi.”&lt;br /&gt;“Tetapi aku tidak tahu caranya!” jawab si tukang sepatu bingung. Mendengar itu semua, pendudukpun terdiam. Mereka sendiri memang tidak tahu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tatkala mereka terpekur memikirkan sepatu sang raksasa, tiba-tiba telepon berdering: “Kami jatuh kedalam kotoran sapi!” kata seseorang. “Sepatu kami kotor dan rusak, datanglah kesini dan buatkan kami yang baru. Cepat!”&lt;br /&gt;Si tukang sepatu menarik nafas: “Sial sekali aku hari ini, satu masalah belum selesai tapi sudah ketambahan yang lain!”&lt;br /&gt;Tetapi tiba-tiba saja wajahnya menjadi cerah: “Ah, aku tahu! Setelah ini mereka pasti tidak akan jatuh lagi ke dalam kotoran sapi…” katanya gembira.&lt;br /&gt;Dengan menggendong sepatu sang raksasa yang besar, si tukang sepatu berangkat mendaki gunung. Setelah sampai dipuncak, ia masuk kedalam gua dan dengan menggunakan kerekan ia turun menuju dasar gua. Ternyata gua tersebut merupakan sebuah tambang dan disana ia bertemu dengan tujuh orang kurcaci. Para Kurcacai berkata :”Akhirnya kamu datang juga! Sekarang, cepatlah bekerja!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si tukang sepatu mengangguk. Tetapi di dalam gua tersebut tidak ada bahan untuk dibuat sepatu. Kemudian ia menangkap beberapa ekor tikus dan ular yang banyak terdapat disana. Sungut tikus dipotong dan digunakan sebagai benang, kulit ular sebagai bahan dasarnya dan untuk tali sepatu digunakan ekor tikus. Benar-benar pekerjaan berat. Tetapi dengan cepat, ia membuat 7 pasang sepatu untuk para kurcaci.&lt;br /&gt;Setelah selesai, para kurcaci terkagum-kagum melihat ke 7 pasang sepatunya yang sangat indah. Merekapu berkata: “Dan untukmu? Adakah yang kau inginkan?”&lt;br /&gt;Dengan senang, si tukang sepatu menjawab: “Oh, aku berharap kalian mau membantuku!” kemudian ia mengeluarkan sepatu sang raksasa dari tasnya. “Dapatkah kalian menyihir sepatu ini? Karena…”&lt;br /&gt;“Tentu saja, kami tahu masalahmu.” kata kurcaci tertua. “Nanti kamu akan lihat…!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Esoknya sang raksasa datang untuk mengambil sepatunya yang sudah diperbaiki. Kemudian ia memakainya dan berteriak: “Ayo sepatuku, lompatlah dan bawa aku pulang!” Tetapi kali ini bukannya 3 lompatan seperti biasanya, tetapi sepatu tersebut melompat 9 kali. Hop, hop, hop, hop, hop, hop, hop, hop, hop…! Sang raksasapun meraung: “Stop. Berhenti! Cukup, sepatuku! Tenang, kataku!”&lt;br /&gt;Ia panic dan berteriak-teriak menyuruh sepatunya untuk berhenti, tetapi tidak dipatuhi! Ia dibawa semakin jauh dan jauh, hingga akhirnya sampai di tengah laut yang dalam, sepatu tersebut berhenti dan ‘plup!’ ia pun terjatuh ke laut dan… tenggelam! Ketika penduduk Saint-Gigot mengetahui hal tersebut, merekapun mengadakan pesta besar-besaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya sang raksasa masih hidup. Setelah beberapa hari, iapun kembali ke desa lagi. Kali ini ia sangat marah. Ditangkapnya si tukang sepatu dan dimasukkannya kedalam mulutnya yang besar. Terjepit diantara gigi-gigi besar sang raksasa, ia pun berteriak: “Tunggu…, tuan Gros-Tonneau, jika aku dimakan, siapa yang akan memperbaiki sepatumu?”&lt;br /&gt;“Kamu benar!” Kata raksasa setelah berfikir sebentar. Kemudian iapun menurunkan si tukang sepatu. “Aku akan memberimu satu kesempatan lagi, hai tukang sepatu! Tapi jika kali ini sepatuku membuat sial lagi, aku akan menelanmu hidup-hidup!” Setelah itu sang raksasapun pergi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasihan sekali si tukang sepatu. Ketika ia merenung memikirkan jalan keluar, mendadak seorang kurcaci menelponnya lagi dan berkata: “Jika malam datang, kami tersesat. Kami ingin sepatu yang bisa menyala! Datanglah, cepat!” Si Tukang sepatu terdiam sesaat tetapi kemudian wajahnya berubah cerah: “Tak salah lagi, para kurcaci pasti tidak akan tersesat lagi, bila…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesudahnya, ketika duduk di dalam gua para kurcaci, si tukang sepatu bekerja dengan cekatan. Para kurcaci tidak henti-hentinya memberi perintah: “Buatkan kami alas sepatu yang bersinar. Di depan! Juga Di belakang!”&lt;br /&gt;Tukang sepatu memberi sinar kunang-kunang pada alas sepatu mereka di bagian depan dan belakang, sehingga seperti lampu kecil yang bercahaya. Para kurcaci memperhatikan dia bekerja dengan tangan di pinggang sambil mengernyitkan alis mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika selesai, para kurcaci memeriksa sepatu dengan seksama, tetapi mereka tidak menemukan cacat sedikitpun. “Lihat, sepatunya bersinar, luar biasa!” kata seorang kurcaci. “Lalu, apa yang kamu inginkan, wahai tukang sepatu?”&lt;br /&gt;Si tukang sepatu mengeluarkan kembali sepatu sang raksasa dari tasnya. Katanya dengan takut-takut: “Begini, aku perlu sedikit bantuan lagi. Tapi lebih… eh… maksudku sihir yang pertama tidak cukup kuat!”&lt;br /&gt;“Apa?” teriak para kurcaci marah. “Baru kali ini ada orang yang berani menyalahkan sihir kami. Tapi kamu telah membuatkan sepatu yang indah! Baiklah, kali ini kau akan lihat…!”&lt;br /&gt;Ketika sang raksasa kembali keesokan harinya, ia langsung memakai sepatunya dan berkata: “Ayo sepatuku, melompatlah, dan bawa aku pulang!” sepatu tersebut mematuhinya, tetapi setelah itu, bukannya melompat ke depan, sepatu itu malahan membawa sang raksasa terus naik ke atas! Hop, hop, hop, hop…! Sang raksasa berteriak: “Tolong! Stop! Turunkan aku! Berhenti! Aku pusing…!” Tetapi sepatu tersebut tidak mematuhinya dan terus membawanya melewati awan demi awan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak saat itu, sang raksasa tidak pernah kembali lagi. Si tukang sepatu menjadi pahlawan serta dielu-elukan. Desa kembali meriah dengan pesta dan dansa.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5500752660990257266-928406972967055879?l=sitiannisaabp.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sitiannisaabp.blogspot.com/feeds/928406972967055879/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sitiannisaabp.blogspot.com/2011/02/sepatu-ajaib.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5500752660990257266/posts/default/928406972967055879'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5500752660990257266/posts/default/928406972967055879'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sitiannisaabp.blogspot.com/2011/02/sepatu-ajaib.html' title='Sepatu Ajaib'/><author><name>annisyuhuw</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16234192627606919427</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='12' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_-ZdJfOq5Qfo/TVOwV4HPgfI/AAAAAAAAADI/iCVz0b3X_C8/s220/Copy%2Bof%2Bjepreeet%2521%25211401.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5500752660990257266.post-8859643073921853138</id><published>2011-02-24T05:38:00.000-08:00</published><updated>2012-02-02T01:16:17.215-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='dunia dongeng'/><title type='text'>Hasil Panen yang Gagal (part 2)</title><content type='html'>Sebelumnya :&lt;br /&gt;&lt;a href="http://sitiannisaabp.blogspot.com/2011/02/hasil-panen-yang-gagal-part-1.html"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Hasil Panen yang Gagal (Part 1)&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;Cerita yang lalu :&lt;br /&gt; Ayah Khalid sangat marah karena Khalid ikut mengaji di mesjid. Ustadz Salman yang mencoba mendamaikan, malah dihina dan diperlakukan dengan kasar. Khalidpun melarikan diri. Inilah lanjutan kisah Ustadz.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku masih tak bisa berkata-kata, lidahku kelu. Apakah aku harus mengutuki sang Ayah yang tidak punya belas kasihan sedikitpun? Aku benar-benar kagum pada anak yang tabah ini, yang telah dilimpahi keteguhan hati oleh Allah.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hubungan ayah-anak yang seharusnya mesra, telah putus, menjadikan mereka seperti bermusuhan singa dan harimau. Kugenggam tangannya dan kuhapus airmata di pipinya. Kukatakan bahwa aku akan selalu mendoakannya. &lt;br /&gt;“Kamu harus tetap hormat dan patuh kepada ayahmu. Tawakallah, kamu tidak sendirian. Aku akan mencoba bertemu dengan Ayahmu, dan minta agar dia mengasihimu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang menimpa Khalid terus menghantuiku. Aku mencari jalan untuk bisa bertemu dengan Ayahnya. Apa yang akan aku katakan? Bagaimana aku akan mengetuk pintunya? Tapi akhirnya aku bisa mengumpulkan keberanianku dan pergi menghadapi ayah Khalid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengetuk pintu. Jariku bergetar dan lututku lemas. Pintu terbuka. Ayah Khalid tampak berdiri di muka pintu, bibirnya terkatup, wajahnya kaku karena marah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tersenyum. Siapa tahu dibalas. Ternyata dia maju, menarik leher bajuku dengan keras, sehingga wajah kami berhadap-hadapan. &lt;br /&gt;“Kamulah terorid, fundamentalis yang mengajar Khalid di mesjid kan?”&lt;br /&gt;“Ya…memang betul…”&lt;br /&gt;“Kuperingatkan kamu. Jangan dekat-dekat Khalid lagi. Atau kupatahkan kedua kakimu kalau kulihat Khalid bersamamu. Khalid tidak akan datang ke kelasmu lagi!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu,… astaga, dia meludahi wajahku. Didorongnya aku keluar, dan pintu ditutup dengan keras.&lt;br /&gt;Pelan-pelan aku keluarkan saputangan dan menghapus penghinaan itu dari wajahku. Masya Allah.&lt;br /&gt;Sang Utusan Allah –SAW- telah menerima penghinaan lebih dari ini. Beliau disebut penipu, dimaki-maki, dilempari batu sampai berdarah-darah. Ditinju sampai giginya patah, ditimbuni kotoran onta dan diusir dari rumahnya. Aku harus sabar menanggungkan semua ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari berganti hari, menjadi bulan dan tahun. Khalid tak pernah lagi kelihatan. Ayahnya melarang dia keluar rumah. Kami selalu mendoakan dia. Sampai akhirnya kami melupakannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bertahun-tahun lewat. Suatu malam selepas Isya, di mesjid, sebuah bayangan berkelebat di belakangku. Sebuah tangan yang kasar menekan bahuku. Aku menoleh. Kulihat sebuah wajah yang kasar, penuh kerut-kerut penderitaan. Dan ah, itu mulut yang dulu meludahiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi ada yang berubah. Wajah yang bengis itu telah hancur. Otot-otot yang menunjukkan kemarahannya dulu sudah melemah. Tubuhnya tampak sangat lelah, seakan-akan menahan sakit dan pergolakan batin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa khabar?” aku mencium tangannya. Kubimbing dia ke sudut mesjid. Dia terpuruk ke pangkuanku sambil menangis.&lt;br /&gt;Subhanallah, tak pernah terbayangkan singa yang kejam itu bisa berubah menjadi anak kucing. &lt;br /&gt;“Bicaralah. Ada apa? Mana Khalid?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Khalid!” Nama itu seolah palu godam yang menghantam kepalanya. Seolah ujung panah yang merobek hatinya. Dia terhuyung-huyung, jatuh lagi.&lt;br /&gt;“Khalid sekarang bukanlah Khalid yang dulu. Dia tidak lagi lembut dan manis.”&lt;br /&gt;“Setelah meninggalkan mesjid, dia berteman dengan anak-anak jalanan. Memang sejak kecil dia suka berteman. Dia segera terperangkap oleh geng anak-anak nakal itu,” katanya.&lt;br /&gt;“Mula-mula dia hanya merokok. Kumarahi, kupukuli dia. Tapi tak ada gunanya. Tubuhnya sudah terbiasa menerima pukulan sejak kecil.” Si Ayah tersenyum kecut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Badannya tumbuh pesat. Dia mulai tidak pulang. Baru berhari-hari dia kembali dengan wajah lusuh. Pelajaran dilupakan, dan dia dikeluarkan dari sekolah. Kadang-kadang jika dia pulang, dia meracau, tubuhnya gemetar,” katanya lagi.&lt;br /&gt;“Tubuhnya, yang tadinya sehat dan bugar, telah berubah. Wajahnya yang dulu seolah bercahaya, sekarang kuyu. Hitam dan kotor.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lanjutnya lagi: “Matanya yang dulu tampak malu-malu juga telah berubah. Warnanya merah, seolah-olah segala barang maksiat yang dihisap atau diminumnya terpancar dimatanya. Matanya itu seolah memancarkan hukuman yang harus diterimanya, didalam hidupnya sekarang ataupun hidupnya kelak kemudian hari.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bicaranya tak dapat berhenti. &lt;br /&gt;“Dia memandang dengan penuh kebencian kepada siapa saja dan segala apa. Hatinyapun menjadi keras. Tak ada lagi kasih sayang dan keramahan. Sekarang dia berubah jadi anak yang tak peduli pada sekitarnya.”&lt;br /&gt;Dia mengambil nafas :&lt;br /&gt;“Tak ada hari tanpa bencana. Dia berani memaki dan memukulku. Bayangkanlah, aku ini ayahnya, tapi dia memukuliku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mencurahkan isi hatinya, matanya memandang aku lagi. Mata yang penuh kesedihan dan keperihan.&lt;br /&gt;“Aku mohon kepadamu Ustadz Salman, tengoklah Khalid. Ajaklah dia kembali ke mesjid. Kali ini aku merestuinya. Pintu rumah kami sekarang terbuka untuk Ustadz.”&lt;br /&gt;“tengoklah Khalid, Ustadz. Dia sangat mencintai dan menghormati Ustadz. Ajaklah lagi dia masuk untuk mengaji. Ajaklah kemana saja. Bahkan menginap di mesjidpun aku izinkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suaranya kini bergetar :&lt;br /&gt;“Ynag terpenting Ustadz Salman, Khalid kembali ke jalan yang benar.”&lt;br /&gt;“Aku mohon, aku mohon Ustadz, kucium tanganmu, kakimu, apapun, apapun…” katanya menghiba-hiba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia menangis, merintih-rintih sampai jatuh pingsan oleh kesedihan dan penderitaannya. Kubiarkan saja dia, agar tuntas mengungkapkan apa yang ada di dalam hatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian aku berbicara kepada :&lt;br /&gt;“Aku akan mencoba, walaupun keadaan sudah seburuk ini. Bapak, bapak telah menanam benihnya. Dan inilah buah yang harus bapak petik.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selesai&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5500752660990257266-8859643073921853138?l=sitiannisaabp.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sitiannisaabp.blogspot.com/feeds/8859643073921853138/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sitiannisaabp.blogspot.com/2011/02/hasil-panen-yang-gagal-part-2.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5500752660990257266/posts/default/8859643073921853138'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5500752660990257266/posts/default/8859643073921853138'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sitiannisaabp.blogspot.com/2011/02/hasil-panen-yang-gagal-part-2.html' title='Hasil Panen yang Gagal (part 2)'/><author><name>annisyuhuw</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16234192627606919427</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='12' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_-ZdJfOq5Qfo/TVOwV4HPgfI/AAAAAAAAADI/iCVz0b3X_C8/s220/Copy%2Bof%2Bjepreeet%2521%25211401.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5500752660990257266.post-733354277938705079</id><published>2011-02-24T04:44:00.000-08:00</published><updated>2012-02-02T01:15:55.556-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='dunia dongeng'/><title type='text'>Hasil panen yang gagal (Part 1)</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Suatu sore Salman Syarif, Ustadz di mesjid kami bercerita :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu aku muda, banyak anak-anak mengaji padaku di mesjid. Hampir setiap sore sehabis maghrib aku melihat ada seorang anak lelaki duduk disudut mesjid. Ditangannya ada Qur’an kecil, dia tampak membacanya. Tapi kulihat dari sudut mataku, dia Cuma memandangi Qur’an itu, Cuma seolah-olah membaca. Sekali-kali dia mencuri pandang kearah kami, dan mencoba mendengarkan pelajaran.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap kali kami bertatap pandang, dia akan memalis, membuang muka, dan terus pura-pura mengaji. &lt;br /&gt;Demikianlah terjadi berhari-hari. Aneh seklali anak ini. Akhirnya suatu malam seusai shalat Isya, aku mendatanginya. &lt;br /&gt;“Assalamualaikum. Namaku pak Salman Syarif, aku ustadz mengajar mengaji disini.”&lt;br /&gt;Dia mencium tanganku sambil memperkenalkan diri: “Namaku Khalid.”&lt;br /&gt;Dia tampak gembira seklali kudekati.&lt;br /&gt;“Kamu bersekolah dimana, Khalid?”&lt;br /&gt;“Saya kelas enam. Saya suka sekali dengan Qur’an.”&lt;br /&gt;Penjelasannya agak aneh.&lt;br /&gt;“Oh begitu. Mengapa kamu tidak ikut mengaji saja dengan anak-anak yang lain?”&lt;br /&gt;“Mengaji? Boleh?” dia tampak senang sekali. “Saya mau. Alhamdulillah.”&lt;br /&gt;Semalaman aku hampir tidak bisa tidur memikirkan anak itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu berlalu …&lt;br /&gt;Subhanallah, betapa cepatnya waktu berlalu. Khalid sekarang jadi santri yang rajin, tak pernah bolos, dan hafalannya bagus. Dia sudah mulai membuka diri, gembira dan mulai berteman dengan santri-santri lainnya. Kemana-mana Al Qur’an tidak pernah lepas dari tangannya. Waktu shalat, dia selalu di shaf terdepan.&lt;br /&gt;Namun kadang-kadang Khalid tampak melamun, pandangannya kosong. Seolah-olah hanya tubuhnya yang ada dekat kami, sukmanya melayang entah kemana. Apa gerangan yang difikirkannya?&lt;br /&gt;Dalam keadaan begitu, kadang-kadang aku menyentuh bahunya, dan dia tergagap-gagap kembali ke alam nyata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu malam, selepas mengaji kami berjalan-jalan ke pantai. Malam gelap, tak terlihat bulan ataupun bintang. Ombak menderu-deru. Kami berdua diam, suasana kaku. &lt;br /&gt;Tiba-tiba Khalid menjatuhkan dirinya, susuk bersimpuh, dan tersengar ratapan yang memilukan. Dia menangis sambil menutupi muka dengan kedua tangannya. Aku diamkan saja, aku biarkan dia melepaskan semua perasaannya. Tak jelas apa yang dikatakannya.&lt;br /&gt;Kemudian diantara isak tangisnya, dia berkata, :”Saya sayang kepada Ustadz, saya sayang kepada teman-teman. Saya sangat mengagumi Al Qur’an. Tetapi ayahku,… ayahku,… “&lt;br /&gt;“Ayahmu? Kenapa Ayahmu, Khalid?”&lt;br /&gt;“Ayahku selalu melarangku datang ke mesjid. Ayahku melarangku untuk dekat-dekat kalian. Dia ketakutan. Dia membenci kalian semua. Dan dia menyuruhku membenci kalian juga. Dia selalu punya contoh tentang kejelekan Islam.”&lt;br /&gt;Aku masih diam saja. “Tetapi ketika aku menjumpai kalian mengaji di Halaqah, semua gambaran buruk itu ternyata salah. Aku melihat semua bermandikan cahaya. Wajah Pak Ustadz, wajah teman-teman tampak bercahaya. Kata-kata kalian keluar seperti cahaya. Bahkan dalam diam pun kalian bercahaya.”&lt;br /&gt;“Saya mulai tidak percaya kata-kata ayahku. Sejak saat itulah aku mulai datang ke mesjid selepas maghrib, berpura-pura bisa mengaji agar bisa dekat kalian. Aku ingin bisa terlihat bercahaya juga.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuelus bahunya.&lt;br /&gt;“Aku tak bisa lupa saat Ustadz datang mendekatiku. Itulah saat yang bahagia untukku. Ketika aku mulai mengaji, jiwaku seolah-olah sudah bersatu dengan jiwa kalian semua. Aku sudah terbius oleh Al Qur’an. Tidurku sudah tak nyenyak lagi. Setiap saat aku ingin melanjutkan kajiku.”&lt;br /&gt;Dia terisak-isak sekarang.&lt;br /&gt;“Ternyata ayahku melihat perubahan diriku. Dia kemudian juga tahu bahwa aku selalu datang ke mesjid. Dia menuduhku bergaul dengan teroris.”&lt;br /&gt;Kata-katanya tak terbendung.&lt;br /&gt;“Kemudian, pada suatu malam, kami semua duduk di meja makan, menunggu ayah pulang. Tak lama kemudian Ayah datang, mukanya tegang dan menahan marah. &lt;br /&gt;“Kami lalu mulai makan dengan diam. Memang begitu kebiasaan kami, tak pernah berbicara dihadapan ayah. Tiba-tiba suaranya terdengar tajam: Khalid, aku dengar kamu sekarang bergaul dengan kaum fundamentalis!”&lt;br /&gt;“Akh, aku ketahuan! Ayahku tahu aku mengaji! Aku mencoba membela diri, tetapi semua kata-kata tersekat dileherku. Ayah ruoanya tidak menanti jawabanku. Dia mengangkat ketel besar di meja dan melemparkannya kearahku.”&lt;br /&gt;Khalid tampak mengerutkan tubuhnya, dan melanjutkan…&lt;br /&gt;“Mungkin aku pingsan, karena ketika mataku kubuka, aku ada dipelukan ibuku. Ibu mengkompres wajahku dengan kain dingin sambil berbisik memanggil namaku dengan cemas.&lt;br /&gt;‘Tak usah diurus anak itu! Dia menjadikanmu fundamentalis dan teroris juga,’ teriak ayak.&lt;br /&gt;Aku melepaskan pelukan Ibu dan merangkak ke kamarku. Kata-kata kasar ayah terus terdengar.&lt;br /&gt;Sejak hari itu aku terus menerima siksaan, tubuhku dan jiwaku. Aku jadi selalu ketakutan. Tapi rupanya, Ayah belum puas. Suatu hari ketika kami makan malam, ayah berkata : ‘Berdirilah, jangan makan lagi bersama kami.’&lt;br /&gt;Belum sempat aku berdiri, Ayah sudah menghajar aku lagi, melempariku dengan benda-benda yang ada di dekatnya. Aku terjerembab.”&lt;br /&gt;“Dalam kesakitanku itu, aku tiba-tiba merasa tubuhnya lebih tinggi dari ayahku dan berteriak kepadanya: “Satu hari nanti aku akan menbalaskan semua penderitaan ini. Semua deraan ini semua sumpah serapah ini, akan berbalik kepada ayah.”&lt;br /&gt;‘Setelah itu aku minggat. Aku lari, lari terus mengikuti ibu jari kakiku. Akhirnya sampailah aku di pantai ini. Air laut yang dingin terasa menyembuhkan luka tubuh dan luka jiwaku. Aku terus menggenggam Qur’an kecilku, aku mulai mengaji sampai terhenti karena tangisku yang menjadi-jadi.”&lt;br /&gt;Air matanya mengalir lagi, airmata yang tampak bercahaya seperti mutiara, turun satu-satu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(bersambung)&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://sitiannisaabp.blogspot.com/2011/02/hasil-panen-yang-gagal-part-2.html"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Hasil Panen yang Gagal (Part 2)&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5500752660990257266-733354277938705079?l=sitiannisaabp.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sitiannisaabp.blogspot.com/feeds/733354277938705079/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sitiannisaabp.blogspot.com/2011/02/hasil-panen-yang-gagal-part-1.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5500752660990257266/posts/default/733354277938705079'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5500752660990257266/posts/default/733354277938705079'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sitiannisaabp.blogspot.com/2011/02/hasil-panen-yang-gagal-part-1.html' title='Hasil panen yang gagal (Part 1)'/><author><name>annisyuhuw</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16234192627606919427</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='12' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_-ZdJfOq5Qfo/TVOwV4HPgfI/AAAAAAAAADI/iCVz0b3X_C8/s220/Copy%2Bof%2Bjepreeet%2521%25211401.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5500752660990257266.post-987569205618887120</id><published>2011-02-11T03:16:00.000-08:00</published><updated>2012-02-02T01:15:37.683-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='dunia dongeng'/><title type='text'>Mengapa kaki buaya pendek ?</title><content type='html'>Alkisah, beribu tahun yang lalu, hiduplah seekor naga raksasa berwarna merah. Pada suatu saah, dia merasa bete, segala sesuatu pernah dialaminya, yang menyenangkan maupun yang menyedihkan. Rasanya tak ada lagi tantangan. Dia sudah merasa bosan hidup didunia ini. Tetapi dia tidak mau pergi sendiri. Karena itu dikumpulkannya binatang-binatang lain. Dia berkata kepada mereka: “Bumi ini tidak aman lagi,” katanya. “Manusia akan memburu dan membunuh kita. Dibalik awan sana ada sebuah tempat yang aman dan indah. Kita akan tenteram disana, karena manusia tidak bisa mencapainya. Naiklah kepunggungku. Kuterbangkan kalian kesana.”&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Binatang-binatang lain mempercayainya dan berebutan naik ke punggung naga merah. Tidak semuanya tentu. Pasti ada kecualinya. Misalnya singa-singa raja hutan yang sombong itu tak mau dia ikut berdesakan. Pikirnya, sebagai sebagai raja tentulah hina berhimpitan begitu dengan rakyatnya. Lain lagi harimau. Harimau suka pada hal-hal yang mendebarkan dan penuh tantangan. Karena itu harimau tidak peduli akan usul naga merah. Manurut dia, berkelahi dengan manusia, meskipun berbahaya tapi membuatnya puas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah, semua binatang-binatang itupun naik ke punggungnya. Tetapi naga merah segera sadar, tak mungkin dia mengangkut semua binatang itu sekaligus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Turunlah sebagian,” pintanya “bebanku terlalu berat. Aku tak kuat bangkit lagi, apalagi terbang ke awan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gajah, yang duduk paling atas, melorot ke arah kuda nil. “He, kamu harus turun, kuda nil. Badanmu mirip karung jerami.,” bentaknya. Mendengar itu kuda nil marah. “Mau menang sendiri ya,” balasnya. “Badanmu sendiri seberat itu. Kau kira dirimu seringan bulu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jerapah tak mau kalah. “Kupikir badak yang harus turun,” katanya. “Dia yang paling berat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi aku yang paling dulu naik’” jawab badak sengit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak adil kalau aku yang harus turun. Pokoknya, ………. Aku tak mau turun.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buaya juga tidak mau mengalah. Dia melihat ke sekelilingnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Serigala yang harus turun,” katanya. “Semua binatang membencinya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Serigala balas membentak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh, kau pikir kau yang punya paling banyak fans ya. Paling cakep?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya kupu-kupu yang tetap tenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku ikut rombongan kedua saja,” katanya sambil terbang dari leher naga merah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagus, begitu dong dari tadi,” kata gajah sambil melihat kupu-kupu tadi menjauh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tuh, sudah ada yang turun. Ayo, naga merah, kita berangkat,” kata yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan menggerutu terus,” kata buaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau sendiri yang mengajak kami. Ayo cepat terbang!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Naga merah pun menggeliat, mendengus, menggeram mengumpulkan segala tenaganya dan akhirnya terbang. Ketika sampai setinggi pohon, baru dia sadar, bebannya terlalu berat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wah, berat sekali!” katanya. Pasti dia akan terjerembab! Apa akal?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku terpaksa harus menjatuhkan penumpang dipunggungku ini. Tentu mereka akan marah, tapi apa daya?” batin naga merah setengah putus asa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diapun menggoyang-goyangkan punggungnya, dan berjatuhanlah binatang-binatang itu dengan berbagai pekik, raungan dan umpatan. Untung jatuhnya di rerumputan, jadi tidak ada yang terluka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang tidak terluka sih, namun akibatnya fatal! Bagaimana mereka jatuh ke tanah, telah membuat perubahan permanent bentuk tubuh binatang-binatang itu, yang sampai kini bisa kita lihat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Simaklah ini, buaya jatuh pada keempat kakinya. Kaki-kaki itu mengkerut jadi pendek sekali. Gajah menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya kuat-kuat, akibatnya hidungnya jadi panjang sekali. Moncong kuda nil terperosok kedalam Lumpur, jadi melebar. Bukan cuma itu, segumpal Lumpur menutupi matanya. Matanya jadi sipit. Leher jerapah terjepit dua batang pohon, karenanya jadi panjang dan langsing sekali. Apa lagi? Ular melata cepat-cepat karena ketakutan, dan kehilangan kaki-kakinya. Taring badak menembus hidungnya, berubah menjadi cula. Itulah sebabnya binatang-binatang jadi seperti yang kita lihat sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana nasib si naga merah? Tak ada seorangpun yang tahu persis. Mungkin dia terbang jauh dan tak pernah kembali lagi. Mungkin juga dia kembali ke bumi dan tinggal dalam gua di tengah hutan yang belum terjamah. Suatu saat kelak, mungkin dia akan muncul lagi. Pandanglah langit luas, kalau-kalau bisa melihat seekor naga merah melayang-layang.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5500752660990257266-987569205618887120?l=sitiannisaabp.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sitiannisaabp.blogspot.com/feeds/987569205618887120/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sitiannisaabp.blogspot.com/2011/02/mengapa-kaki-buaya-pendek.html#comment-form' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5500752660990257266/posts/default/987569205618887120'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5500752660990257266/posts/default/987569205618887120'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sitiannisaabp.blogspot.com/2011/02/mengapa-kaki-buaya-pendek.html' title='Mengapa kaki buaya pendek ?'/><author><name>annisyuhuw</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16234192627606919427</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='12' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_-ZdJfOq5Qfo/TVOwV4HPgfI/AAAAAAAAADI/iCVz0b3X_C8/s220/Copy%2Bof%2Bjepreeet%2521%25211401.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5500752660990257266.post-1771649784863570294</id><published>2011-02-10T04:44:00.000-08:00</published><updated>2012-02-02T01:15:22.523-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='dunia dongeng'/><title type='text'>Kraeng Toodo</title><content type='html'>Syahdan, di Flores bagian barat hidup seorang datuk yang amat gemar berburu landak. Namanya Kraeng Toodo. Dalam berburu, setiap landak yang ditemuinya ia bunuh. Lalu dagingnya dimasak menjadi makanan yang sangat lezat. Seorang pengawal dan dua ekor anjingnya selalu menemaninya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu saat, ketika berburu, Kraeng Toodo menemukan gua dibalik kerimbunan pohon bamboo. Sang datuk yakin, didalamnya ada seekor landak yang besar. &lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Disuruhnya kedua anjingnya masuk untuk menghalau keluar landak yang ada di dalam gua. Ia dan pengawalnya menunggu diluar gua. Senjata siap ditangan. Begitu si landak keluar, ia akan langsung membunuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lama keduanya menunggu, namun landak itu tak juga keluar. Begitupun dengan kedua anjing Kraeng Toodo. Kraeng Toodo cemas. Lalu diperintahkan si pengawal masuk kedalam gua. Tetapi pengawal itu tidak mau. Beberapa kali ia menyuruh, si pengawal tetap saja menolak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa kau tak meu kusuruh masuk ke dalam gua?” tanya Sang Datuk.&lt;br /&gt;“Tuan,” berkata si pengawal. “Hamba adalah seorang pengawal. Hamba harus selalu berada dibelakang Tuan. Tak pantas hamba memasuki gua mendahului Tuan. Tuan yang harus masuk pertama, baru kemudian hamba.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cemas memikirkan kedua anjingnya, juga kesal yang amat sangat terhadap pengawalnya, tanpa fakir panjang lagi Kraeng Toodo memasuki gua. Beberapa sisir pisang dibawanya. Perlahan ia merangkak menelusuri gua. Ketika ia telah berada jauh didalam, si pengawal mengambil sebuah batu besar, lalu meletakkannya di pintu gua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kraeng Toodo terkejut. Dengan cepat ia kembali ke mulut gua. Didorongnya batu itu sekuat tenaga. Namu, tak sedikitpun batu itu bergerak. “Oh!” seru Kraeng Toodo, putus asa, “Aku terkurung!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu si pengawal pulang. Ia lalu mengangkat diri sebagai Datuk menggantikan Kraeng Toodo. Ia mengancam, siapa yang membantah, akan dibunuh. Pesta pun kemudian ia langsungkan. Harta kekayaan Kraeng Toodo dihamburkannya. Rumah Sang Datuk dijadikan ajang bersenang-senang. Keluarga Kraeng Toodo pun diusir dari rumah itu. Si pengawal merasa tak ada yang perlu ditakutkannya lagi. Kraeng Toodo yang dikurung merasa tak punya lagi harapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam keputusasaan ia merangkak makin jauh kedalam gua. Akhirnya ia tiba di suatu ruangan yang luas. Dilihatnya kedua anjingnya. Dan yang sangat aneh, binatang itu bisa bicara: “Kenapa Datuk berada di sini?” tanya mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kraeng Toodo segera bercerita. Tak ada yang ditutupinya. Lalu ia bersumpah, jika ia dapat keluar dari dalam gua, taka akan lagi ia berburu dan memakan daging landak. Si landak menerima sumpahnya. Ia kemudian membuatkan jalan keluar dari gua. “Terimakasih, Sahabat,” ucapnya kepada si landak. “Kau telah menolongku. Aku tak akan melanggar sumpahku..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kraeng Toodo lalu pulang. Setibanya di rumah didapatinya si pengawal tengah berpesta dengan  tamen-temannya. Ia sangat marah. Dibunuhnya pengkhianat itu. Kemudian, dijemputnya seluruh keluarga yang telah diusir oleh si pengawal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak itu, Kraeng Toodo tak lagi berburu landak. Ia tak mau membunuhnya, apalagi memakan dagingnya. Konon, hingga kini masyarakat Flores bagian barat menganggap tabu membunuh dan memakan daging landak. Landak dianggap sebagai binatang keramat.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5500752660990257266-1771649784863570294?l=sitiannisaabp.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sitiannisaabp.blogspot.com/feeds/1771649784863570294/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sitiannisaabp.blogspot.com/2011/02/kraeng-toodo.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5500752660990257266/posts/default/1771649784863570294'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5500752660990257266/posts/default/1771649784863570294'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sitiannisaabp.blogspot.com/2011/02/kraeng-toodo.html' title='Kraeng Toodo'/><author><name>annisyuhuw</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16234192627606919427</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='12' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_-ZdJfOq5Qfo/TVOwV4HPgfI/AAAAAAAAADI/iCVz0b3X_C8/s220/Copy%2Bof%2Bjepreeet%2521%25211401.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5500752660990257266.post-4112607671340166445</id><published>2011-02-10T00:22:00.000-08:00</published><updated>2012-02-02T01:15:02.681-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='dunia dongeng'/><title type='text'>Melepaskan Diri dari Kutukan</title><content type='html'>&lt;div class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;Dahulu kala, adalah seorang pemuda sederhana yang menikah dengan putrid tunggal seorang penggiling gandum. Dengan tekun dia pelajari cara-cara menggiling gandum, dan kemudian meneruskan usaha itu ketika mertuanya meninggal. Mereka miskin, tetapi ada seorang bangsawan yang memberi pinjaman uang. Usahanya pun kemudian maju.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;Kemudian ayah ibu ini mempunyai seorang anak perempuan, tetapi pada saat kelahirannya langsung dibawa terbang, dicuri oleh bidadari. Dalam malam yang gelap bayi ini diletakkan di tepi sebuah perigi. &lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Ketika itu, di udara terdengar senandung :&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;‘kita akan kembali, sayangku &lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;kita akan kembali lagi, cintaku&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;pada suatu saat nanti, kita akan berjumpa ditepi perigi’&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;Bayi itupun tumbuh menjadi seorang gadis yang cantik. Di penggilingan gandumpun tak ada masalah.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;Sampai suatu saat terjadi kebakaran. Semua habis terbakar. Saat itu juga muncul bangsawan yang pernah meminjamkan uangnya dan menagih pinjamannya kembali.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Sementara itu, tak jauh dari perigi tua yang tersebut diatas, ada seorang kurcaci buruk rupa yang selalu sibuk. Musim dingin dia tak pernah kelihatan, entah kemana. Orang-orang sekitar tempat itu cuma beberapa kali bisa melihatnya, karena kurcaci itu selalu terbang kalau ada orang mendekat. Tetapi kalau diperhatikan dengan cermat, ternyata malam hari dia suka bermain di air, dan menyanyikan lagu yang sama :&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt; ‘kita akan kembali, sayangku &lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;kita akan kembali lagi, cintaku&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;bilakah waktunya tiba&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;kita akan bertemu diperigi tua’&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;Gadis itu disuruhnya minum tiga teguk air keramat, dan oh, tiba-tiba mereka bisa terbang cepat seperti kilat. Ketika akhirnya gadis itu membuka matanya, disadarinya bahwa ia ada di istana yang sangat indah dan mewah.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;Raja dan Ratu istana itu memintanya untuk menetap. “Kami akan menjagamu dengan baik,” begitu kata mereka. Tetapi si Gadis berkeras untuk pulang. “Baiklah kalau begitu, tetapi kalau kamu kembali ke bumi, kamu tidak boleh menceritakan apapun tentang istana ini.”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;“Dan ini pesanku : berikan tepung gandum ini pada orang asing pertama yang kau temui. Sesudah itu kamu harus memberikan biskuit ini. Lalu berikan mentega. Berilah juga minuman air dari sumur,” kata Raja dan Ratu.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;            Si Gadis tidak megerti sedikitpun apa arti pesan-pesan itu. Tapi kemudian dia mendapat duabelas tetes air dalam botol kecil.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;            Dipegangnya botol itu erat-erat, dan tiba-tiba sekelilingnya jadi gelap. Dia merasa dirinya terbang, dan benar saja, tiba-tiba dia berada di pintu rumahnya. Alangkah lega rasanya, cepat-cepat dia merayap ke tempat tidur, dan berjanji pada dirinya tidak akan membuka rahasia.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;            Keesokan harinya, pintunya diketuk orang. Dengan masih mengantuk dia mengintip ke luar, dan oh, ada seorang pengemis tua, yang tiba-tiba saja menyanyi :&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;‘bukalah pintunya, manisku&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;Oh bukalah pintunya gadis manis&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;Bilakah waktunya tiba&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;Kita akan bertemu di perigi tua’&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;            Si Gadis diam saja mendengar nyanyian itu, tetapi dia membuka pintu. Si pengemis masuk dan menyanyi lagi&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;‘mana tepungku, manisku&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;Berikanlah tepungku, gadis manis&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;Bilakah waktunya tiba &lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;Kita akan bertemu di perigi tua’&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;            Si Gadis membuatkan bubur dari tepung yang dibawanya, tidak lupa diberi 3 tetes air dari botol hijau. Ketika sedang makan buburnya, tiba-tiba pengemis tua itu menghilang, dan sebagai gantinya muncul bangsawan yang dulu meminjamkan uang, sambil bernyanyi :&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;‘berikanlah biskuitku, manisku&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;Mana biskuitku, sayangku&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;Bilakah waktunya tiba&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;Kita akan bertemu di perigi tua’&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;            Segera si Gadis membuat biskuit, tidak lupa juga 3 tetes air dari botol hijau kecil. Ketika biskuit itu habis dimakan, bangsawan itu hilang, dan sebagai gantinya muncul burung yang dulu membakar penggilingan gandum, yang segera bernyanyi :&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;‘berikanlah mentegaku, manisku&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;Mana mentegaku, sayangku&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;Bilakah waktunya tiba&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;Kita akan bertemu di perigi tua’&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;            Cepat-cepat si Gadis memberikan mentega, tidak lupa juga 3 tetes air dari botol hijau. Baru saja si burung mencocok mentega, ketika tiba-tiba dia mengepakkan sayapnya dan lalu lenyap. Sekarang dia berubah menjadi kurcaci buruk rupa yang memegangnya kemarin malam, dan dia bernyanyi :&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;‘berikanlah airku, manisku&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;Mana airku sayangku&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;Bilakah waktunya tiba&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;Kita akan bertemu di perigi tua’&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;            Si Gadis tahu, airnya tinggal tiga tetes dan dia ketakutan. Dia berlari secepat-cepatnya ke sumur tua, tetapi ups! Disana sudah ada kurcaci buruk rupa itu yang bernyanyi :&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;‘berilah aku air, sayangku&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;Mana airku, sayangku&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;Bilakah waktunya tiba&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;Kita akan bertemu di perigi tua’&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;            Si Gadis memberikan airnya cepat-cepat, tidak melupakan tiga tetes air dari botol hijau. Baru saja air habis diminum, dan tiba-tiba dia menjelma menjadi seorang pangeran muda yang sangat tampan, dan lalu menyapanya dengan ramah.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;            Mereka berdua lalu duduk ditepi sumur hitam, dan saling menceritakan kisah hidupnya.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;            “Aku dilahirkan pada saat yang sama dengan kamu,” katanya “dan aku dibawa terbang oleh bidadari-bidadari pada waktu yang sama ketika kamu ditemukan ditepi sumur. Aku menjadi kurcaci buruk ini bertahun-tahun. Mereka memberikan ujian macam-macam sebelum aku boleh kembali kepada ayahku, Raja Perancis, yang akan menikahkan aku dengan gadis yang tercantik dari seluruh jagad.”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;            “Siapakah dia?” tanya gadis itu.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;            “Puteri seorang penggiling gandum. Maukah kau menikah denganku?” kata sang Pangeran sambil tersenyum.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;            &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;            Demikianlah malam itu juga mereka menikah. Tiba-tiba saja sebuah kereta kencana ditarik empat ekor kuda muncul. Pangeran dan Permaisurinya, pak tua penggiling gandum dan isterinya naik kedalamnya sambil bernyanyi :&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;“alangkah bahagianya kami&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;Alangkah bahagianya, sayang&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;Tak usah pedulikan waktu&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;Kita akan berjumpa dihutan&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;Dekat sumur tua.”&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;            Demikianlah akhirnya Pangeran itu bisa melepaskan diri dari kutukan, karena telah menemukan tambatan hati yang sesuai. Sang Gadis sekarang mengerti apa arti senandung yang selalu didengarkannya berulang-ulang.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5500752660990257266-4112607671340166445?l=sitiannisaabp.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sitiannisaabp.blogspot.com/feeds/4112607671340166445/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sitiannisaabp.blogspot.com/2011/02/melepaskan-diri-dari-kutukan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5500752660990257266/posts/default/4112607671340166445'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5500752660990257266/posts/default/4112607671340166445'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sitiannisaabp.blogspot.com/2011/02/melepaskan-diri-dari-kutukan.html' title='Melepaskan Diri dari Kutukan'/><author><name>annisyuhuw</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16234192627606919427</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='12' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_-ZdJfOq5Qfo/TVOwV4HPgfI/AAAAAAAAADI/iCVz0b3X_C8/s220/Copy%2Bof%2Bjepreeet%2521%25211401.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5500752660990257266.post-1397078658478206360</id><published>2010-07-16T04:03:00.000-07:00</published><updated>2012-02-02T01:14:47.033-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='resensi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='dunia saya'/><title type='text'>Resensi : The Host</title><content type='html'>Hai all ..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Btw , sekarang lagi booming banget film The Twilight Saga : Eclipse . udah tayang sih tanggal 30 juni kemaren , tapi gapapa dong kita ngebahas eclipse sekarang . eitts , tapi sebenernya gue bukan mau ngebahas tentang film eclipse , berhubung gue suka baca novelnya jadi kita bahas tentang novel . kalian tau kan siapa pengarang novel the twilight saga ? yaa , bagi yang belom tau yang mungkin belom baca novelnya , namanya mba stephenie meyer . mba stephenie meyer ini bukan cuma buat novel twilight saga (twilight , new moon , eclipse , breaking dawn) doang looh .. dia juga bikin novel yang judulnya The Host . &lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;ceritanya tentang seorang manusia , namanya Melanie Stryder yang tubuhnya diambil oleh makhluk kasat mata yang bernama 'soul' atau 'jiwa' . tetapi penguasa tubuh tersebut tetap ada dalam tubuhnya (?) . hehehe kalo bingung , baca aja ini :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_-ZdJfOq5Qfo/TEBPffvZDiI/AAAAAAAAAA4/op7nfZ5VcPs/s1600/the-host.jpg"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5494478947906817570" src="http://1.bp.blogspot.com/_-ZdJfOq5Qfo/TEBPffvZDiI/AAAAAAAAAA4/op7nfZ5VcPs/s320/the-host.jpg" style="cursor: pointer; display: block; height: 276px; margin: 0px auto 10px; text-align: center; width: 197px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;The Host&lt;br /&gt;SANG PENGELANA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melanie Stryder menolak dilenyapkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bumi dikuasai musuh tak kasat mata dan manusia dijadikan inang oleh para penguasa ini.&lt;br /&gt;Otak manusia di ambil alih sementara tubuh mereka meneruskan kehidupannya yang lama, seolah-olah tak ada yang berubah&lt;br /&gt;Ketika Melanie tertangkap, tubuhnya diberikan kepada Wanderer, sang "jiwa" pengelana yang akan menjadi penguasa barunya. Wanderer telah diperingatkan mengenai berbagai tantangan yang dihadapinya fengan hidup dalam inang manusia : luapan emosi, perasaan yang melimpah, dan ingatan yeng teramat kental. Namun ada satu yang tak pernah dibayangkan Wanderer: penguasa lama tubuh ini-Melanie Stryder-menolak menyerahkan benaknya sepenuhnya .&lt;br /&gt;Wanderer menyelidiki pikiran-pikiran Melanie, berharap mengetahui dimana keberadaan segelintir manusia yang masih bersembunyi. Namun tanpa disadarinya, Melanie malah memenuhi pikiran Wanderer dengan sosok Jared, laki-laki yang dicintainya dan masih hidup dalam persembunyian. Perlahan namun pasti, Wanderer mulai mendambakan dan menginginkan Jared, dan bersama Melanie, ia memutuskan untuk memulai perjalanan panjang mencari laki-laki yang sama-sama mereka cintai itu.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;/div&gt;&lt;img alt="" src="file:///C:/DOCUME%7E1/Acer/LOCALS%7E1/Temp/moz-screenshot.png" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kalo mau tau ceritanya lebih lanjut beli aja yah bukunya hehe . dijamin ceritanya seru bangeeeeeet .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;so long ..&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5500752660990257266-1397078658478206360?l=sitiannisaabp.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sitiannisaabp.blogspot.com/feeds/1397078658478206360/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sitiannisaabp.blogspot.com/2010/07/resensi-host.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5500752660990257266/posts/default/1397078658478206360'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5500752660990257266/posts/default/1397078658478206360'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sitiannisaabp.blogspot.com/2010/07/resensi-host.html' title='Resensi : The Host'/><author><name>annisyuhuw</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16234192627606919427</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='12' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_-ZdJfOq5Qfo/TVOwV4HPgfI/AAAAAAAAADI/iCVz0b3X_C8/s220/Copy%2Bof%2Bjepreeet%2521%25211401.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_-ZdJfOq5Qfo/TEBPffvZDiI/AAAAAAAAAA4/op7nfZ5VcPs/s72-c/the-host.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5500752660990257266.post-5321108826249004567</id><published>2010-07-11T00:06:00.000-07:00</published><updated>2012-02-02T01:14:32.386-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='dunia saya'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='dunia dongeng'/><title type='text'>100 hari</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic;"&gt;kemaren , gue dapet message di fb yang isinya sebuah cerita :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peter dan Tina sedang duduk bersama di taman kampus tanpa melakukan  apapun,&lt;br /&gt;hanya memandang langit sementara sahabat-sahabat mereka  sedang asik&lt;br /&gt;bercanda ria dengan kekasih mereka masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tina:  "Duh bosen banget. Aku harap aku juga punya pacar yang bisa berbagi&lt;br /&gt;waktu  denganku."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peter: "Kayaknya cuma tinggal kita berdua deh yang  jomblo. cuma kita berdua&lt;br /&gt;saja yang tidak punya pasangan sekarang."&lt;br /&gt;(keduanya  mengeluh dan berdiam beberapa saat)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tina: "Kayaknya aku ada ide  bagus deh. kita adakan permainan yuk?"&lt;br /&gt;Peter: "Eh? permainan apaan?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tina:  "Eng... gampang sih permainannya. Kamu jadi pacarku dan aku jadi&lt;br /&gt;pacarmu  tapi hanya untuk 100 hari saja. gimana menurutmu?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peter:  "Baiklah.... lagian aku juga gada rencana apa-apa untuk beberapa bulan&lt;br /&gt;ke  depan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tina: "Kok kayaknya kamu gak terlalu niat ya... semangat  dong! hari ini akan&lt;br /&gt;jadi hari pertama kita kencan. Mau jalan-jalan  kemana nih?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peter: "Gimana kalo kita nonton saja? Kalo gak salah  film The Troy lagi maen&lt;br /&gt;deh. katanya film itu bagus"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tina:  "OK dech.... Yuk kita pergi sekarang. tar pulang nonton kita ke&lt;br /&gt;karaoke  ya...&lt;br /&gt;ajak aja adik kamu sama pacarnya biar seru."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peter :  "Boleh juga..."&lt;br /&gt;(mereka pun pergi nonton, berkaraoke dan Peter  mengantarkan Tina pulang&lt;br /&gt;malam harinya)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ke 2:&lt;br /&gt;Peter  dan Tina menghabiskan waktu untuk ngobrol dan bercanda di kafe,&lt;br /&gt;suasana  kafe yang remang-remang dan alunan musik yang syahdu membawa hati&lt;br /&gt;mereka  pada situasi yang romantis. Sebelum pulang Peter membeli sebuah&lt;br /&gt;kalung  perak berliontin bintang untuk Tina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ke 3:&lt;br /&gt;Mereka pergi  ke pusat perbelanjaan untuk mencari kado untuk seorang sahabat&lt;br /&gt;Peter.&lt;br /&gt;Setelah  lelah berkeliling pusat perbelanjaan, mereka memutuskan membeli&lt;br /&gt;sebuah  miniatur mobil mini. Setelah itu mereka beristirahat duduk di&lt;br /&gt;foodcourt,  makan satu potong kue dan satu gelas jus berdua dan mulai&lt;br /&gt;berpegangan  tangan untuk pertama kalinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ke 7:&lt;br /&gt;Bermain bowling  dengan teman-teman Peter. Tangan tina terasa sakit karena&lt;br /&gt;tidak  pernah bermain bowling sebelumnya. Peter memijit-mijit tangan Tina&lt;br /&gt;dengan  lembut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ke 25:&lt;br /&gt;Peter mengajak Tina makan malam di Ancol  Bay . Bulan sudah menampakan diri,&lt;br /&gt;langit yang cerah menghamparkan  ribuan bintang dalam pelukannya. Mereka&lt;br /&gt;duduk menunggu makanan,  sambil menikmati suara desir angin berpadu dengan&lt;br /&gt;suara gelombang  bergulung di pantai. Sekali lagi Tina memandang langit, dan&lt;br /&gt;melihat  bintang jatuh. Dia mengucapkan suatu permintaan dalam hatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari  ke 41:&lt;br /&gt;Peter berulang tahun. Tina membuatkan kue ulang tahun untuk  Peter. Bukan&lt;br /&gt;kue buatannya yang pertama, tapi kasih sayang yang mulai  timbul dalam&lt;br /&gt;hatinya membuat kue buatannya itu menjadi yang terbaik.  Peter terharu&lt;br /&gt;menerima kue itu, dan dia mengucapkan suatu harapan  saat meniup lilin ulang&lt;br /&gt;tahunnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ke 67:&lt;br /&gt;Menghabiskan  waktu di Dufan. Naik halilintar, makan es krim bersama,dan&lt;br /&gt;mengunjungi  stand permainan. Peter menghadiahkan sebuah boneka teddy bear&lt;br /&gt;untuk  Tina, dan Tina membelikan sebuah pulpen untuk Peter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ke 72:&lt;br /&gt;Pergi  Ke PRJ. Melihat meriahnya pameran lampion dari negeri China.. Tina&lt;br /&gt;penasaran  untuk mengunjungi salah satu tenda peramal. Sang peramal hanya&lt;br /&gt;mengatakan  "Hargai waktumu bersamanya mulai sekarang", kemudian peramal itu&lt;br /&gt;meneteskan  air mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ke 84:&lt;br /&gt;Peter mengusulkan agar mereka  refreshing ke pantai. Pantai Anyer sangat sepi&lt;br /&gt;karena bukan waktunya  liburan bagi orang lain. Mereka melepaskan sandal dan&lt;br /&gt;berjalan  sepanjang pantai sambil berpegangan tangan, merasakan lembutnya&lt;br /&gt;pasir  dan dinginnya air laut menghempas kaki mereka. Matahari terbenam, dan&lt;br /&gt;mereka  berpelukan seakan tidak ingin berpisah lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ke 99:&lt;br /&gt;Peter  memutuskan agar mereka menjalani hari ini dengan santai dan sederhana.&lt;br /&gt;Mereka  berkeliling kota dan akhirnya duduk di sebuah taman kota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;15:20  pm&lt;br /&gt;Tina: "Aku haus.. Istirahat dulu yuk sebentar."&lt;br /&gt;Peter: "Tunggu  disini, aku beli minuman dulu. Aku mau teh botol saja. Kamu&lt;br /&gt;mau  minum apa?"&lt;br /&gt;Tina: "Aku saja yang beli. kamu kan capek sudah menyetir  keliling kota hari&lt;br /&gt;ini. Sebentar ya"&lt;br /&gt;Peter mengangguk. kakinya  memang pegal sekali karena dimana-mana Jakarta&lt;br /&gt;selalu macet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;15:30  pm&lt;br /&gt;Peter sudah menunggu selama 10 menit and Tina belum kembali juga.&lt;br /&gt;Tiba-tiba  seseorang yang tak dikenal berlari menghampirinya dengan wajah&lt;br /&gt;panik.&lt;br /&gt;Peter  : "Ada apa pak?"&lt;br /&gt;Orang asing: "Ada seorang perempuan ditabrak mobil.  Kayaknya perempuan itu&lt;br /&gt;adalah temanmu"&lt;br /&gt;Peter segera berlari  bersama dengan orang asing itu.&lt;br /&gt;Disana, di atas aspal yang panas  terjemur terik matahari siang,tergeletak&lt;br /&gt;tubuh Tina bersimbah darah,  masih memegang botol minumannya.&lt;br /&gt;Peter segera melarikan mobilnya  membawa Tina ke rumah sakit terdekat.&lt;br /&gt;Peter duduk diluar ruang gawat  darurat selama 8 jam 10 menit.&lt;br /&gt;Seorang dokter keluar dengan wajah  penuh penyesalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;23:53 pm&lt;br /&gt;Dokter: "Maaf, tapi kami sudah  mencoba melakukan yang terbaik. Dia masih&lt;br /&gt;bernafas sekarang tapi Yang  kuasa akan segera menjemput. Kami menemukan&lt;br /&gt;surat ini dalam kantung  bajunya."&lt;br /&gt;Dokter memberikan surat yang terkena percikan darah kepada  Peter dan dia&lt;br /&gt;segera masuk ke dalam kamar rawat untuk melihat Tina.  Wajahnya pucat tetapi&lt;br /&gt;terlihat damai.&lt;br /&gt;Peter duduk disamping  pembaringan tina dan menggenggam tangan Tina dengan&lt;br /&gt;erat.&lt;br /&gt;Untuk  pertama kali dalam hidupnya Peter merasakan torehan luka yang sangat&lt;br /&gt;dalam  di hatinya.&lt;br /&gt;Butiran air mata mengalir dari kedua belah matanya.&lt;br /&gt;Kemudian  dia mulai membaca surat yang telah ditulis Tina untuknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dear  Peter...&lt;br /&gt;ke 100 hari kita sudah hampir berakhir.&lt;br /&gt;Aku menikmati  hari-hari yang kulalui bersamamu.&lt;br /&gt;Walaupun kadang-kadang kamu jutek  dan tidak bisa ditebak,&lt;br /&gt;tapi semua hal ini telah membawa kebahagiaan  dalam hidupku.&lt;br /&gt;Aku sudah menyadari bahwa kau adalah pria yang  berharga dalam hidupku.&lt;br /&gt;Aku menyesal tidak pernah berusaha untuk  mengenalmu lebih dalam lagi&lt;br /&gt;sebelumnya.&lt;br /&gt;Sekarang aku tidak meminta  apa-apa, hanya berharap kita bisa memperpanjang&lt;br /&gt;hari-hari  kebersamaan kita. Sama seperti yang kuucapkan pada bintang jatuh&lt;br /&gt;malam  itu di pantai,&lt;br /&gt;Aku ingin kau menjadi cinta sejati dalam hidupku. Aku  ingin menjadi&lt;br /&gt;kekasihmu selamanya dan berharap kau juga bisa berada  disisiku seumur&lt;br /&gt;hidupku. Peter, aku sangat sayang padamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;23:58&lt;br /&gt;Peter:  "Tina, apakah kau tahu harapan apa yang kuucapkan dalam hati saat&lt;br /&gt;meniup  lilin ulang tahunku?&lt;br /&gt;Aku pun berdoa agar Tuhan mengijinkan kita  bersama-sama selamanya..&lt;br /&gt;Tina, kau tidak bisa meninggalkanku! hari  yang kita lalui baru berjumlah 99&lt;br /&gt;hari!&lt;br /&gt;Kamu harus bangun dan kita  akan melewati puluhan ribu hari bersama-sama!&lt;br /&gt;Aku juga sayang  padamu, Tina. Jangan tinggalkan aku, jangan biarkan aku&lt;br /&gt;kesepian!&lt;br /&gt;Tina,  Aku sayang kamu...!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jam dinding berdentang 12 kali.... jantung  Tina berhenti berdetak.&lt;br /&gt;Hari itu adalah hari ke 100...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Katakan  perasaanmu pada orang yang kau sayangi sebelum terlambat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kau tidak  akan pernah tahu apa yang akan terjadi besok.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kau tidak akan pernah  tahu siapa yang akan meninggalkanmu dan tidak akan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;pernah kembali  lagi.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5500752660990257266-5321108826249004567?l=sitiannisaabp.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sitiannisaabp.blogspot.com/feeds/5321108826249004567/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sitiannisaabp.blogspot.com/2010/07/100-hari.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5500752660990257266/posts/default/5321108826249004567'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5500752660990257266/posts/default/5321108826249004567'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sitiannisaabp.blogspot.com/2010/07/100-hari.html' title='100 hari'/><author><name>annisyuhuw</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16234192627606919427</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='12' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_-ZdJfOq5Qfo/TVOwV4HPgfI/AAAAAAAAADI/iCVz0b3X_C8/s220/Copy%2Bof%2Bjepreeet%2521%25211401.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5500752660990257266.post-5240755461687020293</id><published>2010-06-05T18:48:00.000-07:00</published><updated>2012-02-02T01:14:16.940-08:00</updated><title type='text'>Harry Potter and The Deathly Hallows : Kisah Tiga Saudara</title><content type='html'>Pada zaman dahulu ada tiga saudara, kakak-beradik laki-laki, yang berkelana melewati jalan panjang berliku-liku di senja hari. Pada waktunya, ketiga saudara ini tiba disungai yang terlalu dalam untuk disebrangi dengan berjalan kaki dan terlalu berbahaya untuk disebrangi dengan berenang. Meskipun demikian, ketiga saudara ini menguasai ilmu sihir, maka mereka tinggal melambaikan tongkat sihir mereka dan sebuah jembatan muncul diatas air yang berbahaya itu.Mereka sudah tiba di tengah-tengah jembatan ketika ternyata jalan mereka dihalangi sosok berkerudung. Dan kematian berbicara kepada mereka.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt; Dia marah telah kehilangan tiga korban baru, karena para pengelana biasanya tenggelam disungai. Tetapi kematian licik. Dia pura-pura memberi selamat kepada ketiga saudara ini atas sihir mereka, dan berkata masing-masing berhakmendapatkan hadiah karena telah cukup pintar untuk menghindarinya.&lt;br /&gt;Maka, si sulung, yang suka bertempur, meminta tongkat sihir yang lebih hebat dari pada semua tongkat sihir yang ada : tongkat sihir yang harus selalu memenangkan duel bagi pemiliknya, tongkat sihir yang layak diterima penyihir yang telah mengalahkan kematian! Maka kematian menyebrang ke sebatang pohon elder di tepi sungai, membuat tongkat sihir dari dahan yang menggantung disana dan memberikannya kapada si sulung.&lt;br /&gt;Kemudian si tengah, orang yang sombong, memutuskan dia ingin mempermalukan kematian lebih jauh lagi dan meminta kekuatan untuk memanggil yang lain dari kematian. Maka kematian memungut sebutir batu dari tepi sungai dan memberikannya kepada si tengah, dan memberitahunya bahwa batu itu akan memiliki kekuatan untuk mengembalikan orang yang sudah mati.&lt;br /&gt;Kemudian kematian menanyai si bungsu, apa yang diinginkannya. Si bungsu ini yang palng rendah hati dan juga paling bijaksana diantara ketiga kakak-beradik ini, dan dia tidak memercayai kematian. Maka dia meminta sesuatu yang bisa membuatnya melanjutkan perjalanan dari tempat itu tanpa diikuti kematian. Dan kematian, dengan sangat amat enggan, menyerahkan Jubah Gaibnya sendiri kepadanya.&lt;br /&gt;Kemudian kematian menyisih dan mengizinkan ketiga kakak-beradik itu pergi melanjutkan perjalanan mereka, dan mereka pun melanjutkan perjalanan, sambil membicarakan dengan takjub petualangan yang telah mereka alami, dan mengagumi hadiah dari kematian. Pada saatnya kakak-beradik ini berpisah, masing masing menuju tujuan mereka sendiri-sendiri.&lt;br /&gt;Si sulung yang berjalan kira-kira seminggu lagi, dan tiba di suatu desa yang jauh, mencari penyihir kenalannya, dengan siapa dia pernah bertengkar. Tentu saja dengan Tongkat Sihir Elder sebagai senjatanya, dia tak mungkin kalah dalam duel yang terjadi. Meninggalkan musuhnya mati di lantai, si sulung menuju tempat penginapan. Disana dia membanggakan keras-keras kehebatan tongkat sihir yang telah diperolehnya dari kematian sendiri, dan tentang bagaimana tongkat sihir itu membuatnya tak terkalahkan.&lt;br /&gt;Malam itu juga, seorang penyihir lain mengendap-endap mendatangi si sulung yang sedang terlelap, bersimbah angus di tempat tidurnya. Pencuri ini mengambil tongkat sihirnya dan , sebagai tambahan, menggorok leher si sulung.&lt;br /&gt;Maka kematian mengambil si sulung sebagai miliknya.&lt;br /&gt;Sementara itu, si tengah pulang kerumahnya, tempat dia hidup sendiri. Dia mengeluarkan batu yang memiliki kekuatan untuk memanggil orang mati dan memutarnya tiga kali dalam tangannya. Betapa heran dan gembiranya dia, sosok gadis yang dulu pernah diharapkannya untuk dinikahinya, sebelum gadis itu meninggal dalam usia muda, muncul seketika itu juga dihadapannya.&lt;br /&gt;Meskipun demikian gadis itu sedih dan dingin, terpisah darinya oleh sehelai selubung. Walaupun telah kembali ke dunia orang hidup, dia sesungguhnya bukanlah bagian dari dunia itu dan menderita. Akhirnya si tengah, menjadi gila karena kerinduan yang sia-sia, membunuh diri supaya benar-benar bergabung dengan gadis itu.&lt;br /&gt;Maka kematian mengambil si tengah sebagai miliknya.&lt;br /&gt;Namun, meski kematian mencari si bungsu selama bertahun-tahun, dia tek pernah berhasil menemukannya. Barulah ketika telah mencapai usia sangat lanjut, si bungsu membuka Jubah Gaibnya dan memberikannya kepada anak laki-lakinya.&lt;br /&gt;Dan kemudian dia menyalami kematian sebagai teman lama, dan pergi bersamanya dengan senang, dan sebagai teman sederajat, mereka meninggalkan kehidupan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_-ZdJfOq5Qfo/TAr_JXxzkcI/AAAAAAAAAAo/qvRdi6XoQS4/s1600/Deathly_Hallows2_copy.jpg"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5479472433116451266" src="http://1.bp.blogspot.com/_-ZdJfOq5Qfo/TAr_JXxzkcI/AAAAAAAAAAo/qvRdi6XoQS4/s320/Deathly_Hallows2_copy.jpg" style="cursor: pointer; display: block; height: 320px; margin: 0px auto 10px; text-align: center; width: 320px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5500752660990257266-5240755461687020293?l=sitiannisaabp.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sitiannisaabp.blogspot.com/feeds/5240755461687020293/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sitiannisaabp.blogspot.com/2010/06/harry-potter-and-deathly-hallows-kisah.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5500752660990257266/posts/default/5240755461687020293'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5500752660990257266/posts/default/5240755461687020293'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sitiannisaabp.blogspot.com/2010/06/harry-potter-and-deathly-hallows-kisah.html' title='Harry Potter and The Deathly Hallows : Kisah Tiga Saudara'/><author><name>annisyuhuw</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16234192627606919427</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='12' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_-ZdJfOq5Qfo/TVOwV4HPgfI/AAAAAAAAADI/iCVz0b3X_C8/s220/Copy%2Bof%2Bjepreeet%2521%25211401.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_-ZdJfOq5Qfo/TAr_JXxzkcI/AAAAAAAAAAo/qvRdi6XoQS4/s72-c/Deathly_Hallows2_copy.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5500752660990257266.post-6781357371408073238</id><published>2010-04-10T22:10:00.000-07:00</published><updated>2012-02-02T01:14:00.009-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='dunia dongeng'/><title type='text'>Untaian Bintang Saketi</title><content type='html'>Prabu Angga Larang yang menjadi penguasa kerajaan Padjajaran merasa resah dengan penyebaran Islam yang begitu pesat diwilayahnya. Maklum saja, saat itu Padjajaran adalah kerajaan yang menganut ajaran Hindu. Semenjak pusat penyebaran Islam hadir di Tanjung Pura Karawang, banyak warga yang memeluk Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari, Prabu Angga Larang Memanggil Putera Mahkotanya yang bernama Raden Pamanah Rasa.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;"Ananda putraku, aku dengar bahe]wa di wilayah Tanjung Pura berdiri sebuah pusat penyebaran agama baru. Jika kita biarkan, bisa membahayakan kerajaan kita. Aku perintahkan kamu untik segera menutup tempat tersebut," kata Prabu Angga Larang.&lt;br /&gt;"Baik Paduka Raja. Hamba akan segera melaksanakan titah Paduka," jawab Raden Pamanah Rasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Esok harinya, sekelompok pasukan berkuda yang dipimpin oleh Raden Pamanah Rasa keluar dari istana Padjajaran. Derap langkah mereka berpacu menuju Tanjung Pura, yang terletak diwilayah bagian utara. Sementara, semangat di dalam dada Raden Pamanah Rasa begitu bergelora. Ia sangat ingin segera menumpas orang-orang yang dianggap menyebarkan ajaran sesat. Ajaran yang mengganggu ketentraman wilayahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah beberapa hari, pasukan raden Pamanah Rasa tiba di tempat tujuan, Tanjung Pura Karawang. Sebuah tempat yang terletak di pinggir sungai yang besar dan dekat dengan laut Jawa. "Sekarang kita istirahat dulu sambil mengamati situasi. Kita akan menyerang setelah malam..." begitu Raden Pamanah Rasa punya rencana.&lt;br /&gt;"Siap Raden! Laksanakan..!" jawab para tentaranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari beranjak sore. Malam yang gelap mulai turun. Raden Pamanah Rasa masih bersembunyi di semak. Pengawasannya tak lepas dari sebuah pendopo yang dicurigai sebagai pusat penyebaran. Ia mengamati siutuasi. Tampak beberapa orang berjalan menuju sebuah pendopo. Mereka kemudian duduk dan berkumpul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesaat kemudian terdengar suara melantun merdu. Iramanya mndayu, rasanya begitu menyentuh hati. Raden Pamanah Rasa yang mendengar juga terpesona. Belum pernah ia mendengar lantunan seperti ini sebelumnya, "Nyanyian apa ini?" begitu bisik dihatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantunan merdu terus mendayu menembus malam. orang-orang yang mendengar tertunduk. Raden Pamanah Rasa penasaran. Perlahan kakinya melangkah mencari arah datangnya suara tersebut. Perlahan kakinya mengantarkannnya kepada pendopo yang dipenuhi orang-orang. Ia lupa akan tugas utamanya. Ia justru semakin penasaran. Dan ternyata, ketika tahu pemilik suara tersebut, ia semakin terpesona. Ternyata lantunan merdu itu keluar dari perempuan yang sangat cantik jelita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raden Pamanah Rasa lupa akan tugas utamanya yang diembankan oleh Prabu siliwangi. Justru kini, ia telah jatuh hati kepada Nyi Subang Larang, pemilik suara merdu berwajah rupawan. Ia adalah seorang gadis jelita, pitri dari kerajaan di wilayah Cirebon. Setiap hari ia melantunkan ayat-ayat Al Qur'an suci yang menyentuh hati. Karena itu, gurunya Syaikh Hasanudin dijuluki Syaikh Quro, yang berarti pembaca Al Qur'an. Karena lantunan suara merdu tersebut, masyarakat yang tinggal di sekitar Tanjung Pura masuk islam. Alasannya sangat sederhana, ketika ayat Al Qur'an dibaca, mereka merasa tenang. Hati yang mendengar merasa tenteram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Awalnya, kami kesini ditugasi Prabu Siliwangi untuk menutup pusat ajaran baru. Tapi setelah mendengar lantunan suara, justru kami langsung jatuh hati dan ingin mempersunting Nyai," ucap Raden Pamanah Rasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tentu saja, aku senang dilamar oleh Putera Makhota. Tapi sebelum aku terima, ada syarat yang harus dipenuhi," jawab Nyi Subang Larang.&lt;br /&gt;"Syarat apa, Nyai? Coba sebutkan. Emas permata, atau kidang kancana?" Raden Pamanah Rasa penasaran.&lt;br /&gt;"Bukan itu permintaanku Raden. Aku hanya meminta, Raden melamar cukup dengan untaian bintang saketi,"&lt;br /&gt;"Bintang saketi ? Apa itu?"&lt;br /&gt;"Bintang saketi adalah untaian batu permata yang hanya terdapat di kota Mekkah," jelas Nyi Subang Larang.&lt;br /&gt;"Aku pasti menyanggupinya. Tapi beri aku waktu..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak saat itu Raden Pamanah Rasa menetap di Tanjung Pura Karawang. Dibawah Syaikh Quro. Ia belajar mendalami berbagai ajaran islam. Setelah beberapa saat, ia belajar ke Cirebon da kemudian pergi ke Mekkah untuk melaksanakan ibadah Haji. Di Mekkah itulah ia menemukan untaian batu mutiara yag dianggap Bintang Saketi, permintaan Nyi Subang Larang, dambaan hatinya. Sepulang dari Mekkah, ia kemudian menikahi Nyi Subang Larang. Kabar tersebut tersiar kepada telinga Prabu Siliwangi, ayahnya sekaligus taja Padjajaran ketika itu. Tentu saja, Prabu Siliwangi tidak terima dan mengirim pasukan untuk menumpas pusat penyebaran islam. Namun, Raden Pamanah Rasa yang telah masuk islam dan menjadi suami Nyi Subang Larang, berhasil melawannya. Pasukan Padjajaran kembali pulang ke kota Galuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selang beberapa saat kemudian, Raja Padjajaran meninggal. Raden Pamanah Rasa kembali mendatangi kerajaannya di daerah Galuh. Ia kemudian diangkat menjadi Prabu Siliwangi II dengan permaisuri Nyi Subang Larang. Di masa pemerintahannya, ajaran islam berkembang pesat. Sementara itu Tanjung Pura Karawang dipercaya sebagai pesantrenpertama di Jawa Barat.  Kini, sebagai bukti peninggalannya, makam Syaikh Quro dapat ditemui di Kecamatan Wadas Lemah Abang Karawang, Jawa Barat. Ditempat ini setiap jum,at malam dipenuhi oleh peziarah dari berbagai daerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;diceritakan kembali oleh : Endi R. Syarifudin&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sumber : ORBIT&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5500752660990257266-6781357371408073238?l=sitiannisaabp.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sitiannisaabp.blogspot.com/feeds/6781357371408073238/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sitiannisaabp.blogspot.com/2010/04/untaian-bintang-saketi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5500752660990257266/posts/default/6781357371408073238'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5500752660990257266/posts/default/6781357371408073238'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sitiannisaabp.blogspot.com/2010/04/untaian-bintang-saketi.html' title='Untaian Bintang Saketi'/><author><name>annisyuhuw</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16234192627606919427</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='12' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_-ZdJfOq5Qfo/TVOwV4HPgfI/AAAAAAAAADI/iCVz0b3X_C8/s220/Copy%2Bof%2Bjepreeet%2521%25211401.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5500752660990257266.post-5989408209347356347</id><published>2010-03-17T04:33:00.000-07:00</published><updated>2012-02-02T01:13:40.572-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='dunia saya'/><title type='text'>Be Positive !</title><content type='html'>Emang sih banyak yang bilang sekarang bulan Maret , banyak yang putus cinta, patah hati, bad mood, down, ditinggal sama orang yang disayang dan bla bla bla banyak hal yang membuat kita semakin murung aja di bulan kelabu ini. Seperti contohnya gue ya yang emang lagi patah hati juga di bulan ini (jadi curcol :D) tapi gue pengen banget keluar dari pikiran gue yang menjenuhkan itu. Siapa sih yang bisa seneng kalau hatinya tuh lagi geludug geludug jeger jeger *ngga mood gitu hehe*. Jadi, gue kasih beberapa tips ya ..&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;ol&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Pertama-tama yang mungkin harus kamu lakukan adalah keluarin semua perasaan kamu, unek unek kamu kalo perlu nangis atau teriak sekenceng kencengnya, sampe perasaan kamu lega. Yang penting jangan terlalu dipendem, nanti bisa stress lagi , hehehe ..&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Setelah itu coba buat terbuka sama orang lain, misalkan dengan curhat ke orang-orang terdekat kamu, dan yang pasti yang menurut kamu bisa dipercaya. Kalo engga bisa gawat! Cerita sedih kamu bisa beber kemana-mana dan bahkan bisa jadi bahan omongan orang. Tapi menurut gue, cerita aja ke ortu kamu, karena merekalah yang paling bisa dipercaya dan juga berpengalaman. Karena mereka juga pernah ngalamin hal-hal yang pernah kamu alamin dimasa sekarang.&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Cari hal-hal yang bisa menjauhkan kamu dari pikiran sedih kamu. Misalkan ikut aktivitas-aktivitas yang bersifat positif , atau mungkin kamu-kamu yang hobi shopping bisa jalan jalan ke mall, atau hal-hal lain yang bisa membuat kamu merasa senang.&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Ingat, disetiap kejadian pasti ada hikmahnya. Jadi mungkin saja kejadian yang kamu alami sekarang ini menyimpan pesan penting untuk kamu. Jadi, cobalah ambil hal-hal positif dan pelajaran yang bisa kamu ambil dari kejadian ini. Dan usahakan agar kejadian yang menyedihkan ini ngga terulang lagi.&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Setelah itu cobalah untuk tersenyum dan ceria kembali. Senyum itu ibadah lho ! Apa lagi teman-teman kamu juga bisa ikut ceria bila mereka melihat kamu ceria. Ngga baik juga kalo kamu cemberut terus kan? Nanti bisa dikira kesambet lagi, hi.. serem deh ..&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu yang gue lakukan ketika gue lagi merasa sedih. Semoga berhasil ya kawan-kawan! Jalani hari-harimu dengan ceria, semangat dan senyuman !&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5500752660990257266-5989408209347356347?l=sitiannisaabp.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sitiannisaabp.blogspot.com/feeds/5989408209347356347/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sitiannisaabp.blogspot.com/2010/03/be-positive.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5500752660990257266/posts/default/5989408209347356347'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5500752660990257266/posts/default/5989408209347356347'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sitiannisaabp.blogspot.com/2010/03/be-positive.html' title='Be Positive !'/><author><name>annisyuhuw</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16234192627606919427</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='12' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_-ZdJfOq5Qfo/TVOwV4HPgfI/AAAAAAAAADI/iCVz0b3X_C8/s220/Copy%2Bof%2Bjepreeet%2521%25211401.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5500752660990257266.post-4329833632506778417</id><published>2010-03-16T01:08:00.000-07:00</published><updated>2012-02-02T01:13:27.940-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='dunia dongeng'/><title type='text'>Raja Bijak dan Seekor Semut</title><content type='html'>Di zaman mesir kuno, hiduplah seorang raja yang sangat adil dan bijaksana. Ucapannya adalah kebenaran, sementara prilakunya adalah panutan. Karena keadilannya, rakyat Mesir hidup dalam kemakmuran.Rakyat Mesir hidup dalam kebahagiaan yang tiada tara. Kerananya tak heran bila mereka sangat mencintai rajanya tersebut. Dalam menegakkan hukum, raja tidak pernah pilih kasih. Sekalipun ada anggota istana atau keluarga yang berbuat kesalahan,Raja Mesir tersebut tetap memberi hukuman. Karena ketegasan hukum tersebut, tingkat kejahatn di Wilayah mesir kecil sekali.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain adil, raja Mesir ini sangat menyukai binatang. Sampai-sampai ia mampu berkomunikasi dengan berbagai jenis binatang. Suatu hari, ia berjalan-jalan mendatangi sebuah lubang semut yang berada di sekitar taman istana. Ternyata dimulut lubang, seekor semut telah menunggu kedatangan Raja bijaksana tersebut. Begitu melihat wajah raja, semut tampak riang gembira.&lt;br /&gt;"Bagaimana kabarmu semut ?" tanya Raja.&lt;br /&gt;"Hamba baik-baik saja, Baginda. Terimakasih telah berkunjung," jawab semut antusias.&lt;br /&gt;"Badanmu tampoak berkeringat dan tampak lelah. Kamu dari mana ?" tanya Raja.&lt;br /&gt;"Sejak pagi, hamba telah pergi ke beberapa tempat tapi belum juga mendapat makanan, Baginda".&lt;br /&gt;"O begitu. Jadi kamu belum makan ?"&lt;br /&gt;"Betul, Baginda" jawab semut.&lt;br /&gt;Baginda raja termenung sejenak. Ia memperhatikan semut yang ada di hadapannya. Tampak memang, wajah semut sedikit pucat.&lt;br /&gt;"Sekarang kamu lapar sekali ya?" tanya Raja&lt;br /&gt;"Tentu Baginda"&lt;br /&gt;"Semut, kalau dijumlahkan, berapa banyak makanan yang kamu perlukan dalam setahun ?"&lt;br /&gt;"Hanya sepotong roti, Baginda"&lt;br /&gt;"Hanya sepotong roti?" Raja meyakinkan.&lt;br /&gt;"Betul Baginda. Bagi manusia, ukuran tersebut tidak seberapa," jelas semut.&lt;br /&gt;"Baiklah kalau begitu. Aku akan memberi kamu sepotong roti."&lt;br /&gt;"Hamba sangat senang. Terima kasih, Baginda"&lt;br /&gt;"Sekarang, kamu akan kubawa ke istanaku," kata Raja&lt;br /&gt;"Hamba menurut saja."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Raja Mesir itu memindahkan semut ke tangannya lalu membawanya menuju istana. Semut yang kecil itu sangat gembira karena mendapat perlakuan istimewa dari Raja Mesir. Ia sudah membayangkan bahwa selama setahun kedepan ia tak perlu susah payah mencari makan, karena telah disediakan sepotong roti oleh Raja. Ia membayangkan juga, bahwa roti istana pasti lebih manis dan enak, tidak seperti sisa-sisa makanan yang selama ini ia temukan.&lt;br /&gt;Tiba di istana, Raja Mesir itu membawa semut ke sebuah ruangan.&lt;br /&gt;"Sekarang masuklah kamu kedalam tabung ini. Di tabung ini telah kusimpan sepotong roti jatah untuk makan kamu setahun," jelas Raja.&lt;br /&gt;"Baik Baginda. Hamba akan masuk," jawab semut.&lt;br /&gt;"Setahun yang akan datang, aku akan kembali dan membuka tabung ini."&lt;br /&gt;"Hamba tunggu, Bagunda."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tabung berisi semut dan sepotong roti itu segera ditutup rapat oleh Raja Mesir. Tak lupa, Raja Mesir tersebut membuat lubang untuk keluar masuknya udara. Kemudian, tabung tersebut disimpan raja dalam sebuah lemari.&lt;br /&gt;Raja Mesir tersebut meninggalkan semut dalam tabung seorang diri. Ia kemudian menjalankan kegiatan istana seperti biasa. Menyelesaikan berbagai persoalan, seperti memberi bantuan kepada rakyat yang datang keistana, menghukum pelaku kejahatan, serta membangun fasilitas keperluan rakyatnya.&lt;br /&gt;Hari terus berganti, tak terasa setahun telah berlalu. Raja Mesir tersebut ingat dengan janjinya. Ia segera memasuki ruangan tempat ia menyimpan tabung yang berisi semut dan sepotong roti. Diambilnya tabung tersebut. Perlahan-lahan ia membuka tutup tabung. dari dalam tabung, muncul wajah semut.&lt;br /&gt;"Bagaimana kabarmu semut?" tanya Raja Mesir.&lt;br /&gt;"Alhamdulillah hamba baik-baik saja," jawab semut.&lt;br /&gt;"Setahun berada di dalam tabung, bagaimana rasanya?"&lt;br /&gt;"Tidak masalah. Hamba menikmatinya."&lt;br /&gt;"Apakah kamu mengalami sakit selama ini ?"&lt;br /&gt;"Tidak baginda. Hamba sehat-sehat saja."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raja Mesir itu mengamati dengan seksama tubuh semut. Memang, semut itu tetap segar seperti setahun silam. Kemudian ia terkejut ketika mendapati separuh dari sepotong roti yang ia berikan.&lt;br /&gt;"Mengapa roti pemberianku tidak kamu habiskan? Katanya dalam setahun cukup sepotong roti untuk jatah makan. Tapi, kok masih kamu sisakan separuh?" tanya Raja.&lt;br /&gt;"Maaf baginda. Roti itu memang sengaja hamba sisakan. Sebab hamba khawatir kalau-kalau Baginda lupa menemui hamba lagi."&lt;br /&gt;"Oh, begitu"&lt;br /&gt;"Kalau Baginda lupa, hamba masih punya persediaan makan buat setahunnya lagi," jawab semut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raja Mesir yang bijaksana tersebut cukup tersentuh dengan penjelasan semut. Semut yang kecil ternyata memiliki pikiran yang lebih jauh. Semut yang kecil tersebut mampu menghemat makanannya demi berjaga-jaga.&lt;br /&gt;"Kamu memang semut hebat," Puji Raja&lt;br /&gt;"Terima kasih, Baginda"&lt;br /&gt;Raja Mesir tersebut dapat mengambil pelajaran dari seekor semut, bahwa hidup hemat itu lebih baik daripada boros.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sumber: ORBIT&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5500752660990257266-4329833632506778417?l=sitiannisaabp.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sitiannisaabp.blogspot.com/feeds/4329833632506778417/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sitiannisaabp.blogspot.com/2010/03/raja-bijak-dan-seekor-semut.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5500752660990257266/posts/default/4329833632506778417'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5500752660990257266/posts/default/4329833632506778417'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sitiannisaabp.blogspot.com/2010/03/raja-bijak-dan-seekor-semut.html' title='Raja Bijak dan Seekor Semut'/><author><name>annisyuhuw</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16234192627606919427</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='12' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_-ZdJfOq5Qfo/TVOwV4HPgfI/AAAAAAAAADI/iCVz0b3X_C8/s220/Copy%2Bof%2Bjepreeet%2521%25211401.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5500752660990257266.post-5568322474489519636</id><published>2010-03-15T20:41:00.000-07:00</published><updated>2012-02-02T01:13:11.312-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='dunia dongeng'/><title type='text'>Pemuda yang Serakah</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Teman-teman, saat aku kecil Ibu pernah mendongengkan tentang asal-usul kecoa. Sekarang aku ingin membagi cerita dengan kalian. Tentu saja, kalian boleh percaya, boleh tidak. Namanya juga dongeng. Ibu selalu memulai ceritanya dengan ...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikisahkan pada jaman dahulu, ada seorang pemuda desa yang cerdas nemun agak serakah. Mungkin karena sejak lahir hidupnya selalu dalam kemiskinan. Kedua orang tuanya sudah meninggal dunia. Ia hidup sebatang kara.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt; Suatu hari dia berdoa : "Ya Tuhan jadikanlah aku pemuda perkasa yang punya kemampuan luar biasa." Setahun telah berlalu, namun doanya belum juga dikabulkan. Hingga akhirnya dia naik ke puncak pohon yang paling tinggi di hutan dekat desanya. Tingginya kira-kira 10 meter. Dengan lantang ia berteriak "Tuhan mengapa kau tak adil padaku! Aku tak pernah keberatan telah dilahirkan sebagai orang miskin! Sekarang aku hanya minta dijadikan orang yang paling perkasa, Tuhan! Hanya itu ! Kanapa kau tak mengabulkannya? Atau hau memang tak mampu?!" Rupanya ia begitu marah hingga ia menyindir Tuhan.&lt;br /&gt;Saat itu juga langsung terdengar gemuruh petir di langit dan cahaya kilat menyambar pohon yang ia naiki.&lt;br /&gt;"Tuhan aku tidak takut! Kalau kau tak mampu menjadikan aku orang yang perkasa, berhentilah menjadi Tuhan!!"&lt;br /&gt;Dengan kesal ia turun dari pohon dengan tergesa-gesa. Ups! Kakinya salah berpijak. Ia menginjak ranting pohon yang ringkih. Tubuhnya limbung kehilangan keseimbangan. Tangannya pun terhentak, lepas dari pegangan batang pohon. Serta merta tubuhnya meluncur dengan cepat ke tanah. Ia berteriak ketakutan smabil memejamkan mata. Tapi ternyata ...............&lt;br /&gt;"Aaaaaaaaa...kok ? Aku bisa terbang!! Aku bisa terbang! Aku bisa terbang," tubuh pemuda iti ringan seperti kapas. Ia tak jatuh kebawah, bahkan tubuhnya kini melayang.&lt;br /&gt;"Wah, seandainya di punggungku ada sayapnya, pasti tambah asyik! Tuhan... beri aku sayap!" teriaknya. Tiba-tiba punggungya menggelembung dan ... "Hey, aku punya sayap ! Aku akan terbang terus menuju matahari. Aku ingin tahu sepanas apakah matahari," kata Pemuda itu dengan sombongnya. Saat itu ia tak menyadari bahwa kaki dan yangannya berubah menjadi sangat kecil dan tipis.&lt;br /&gt;Kira-kira 10.000 kilometer menuju matahari, kulitnya mulai terbakar hingga kecoklatan. Ia paksakan terus terbang menuju matahari. Tapi lama-kelamaan ia tak tahan. Tubuhnya seperti terpental, meluncur, terus meluncur dengan cepatnya ke tanah dan ..Brug !&lt;br /&gt;"Aaaaaaaaaahhhhhhh..." teriaknya. Ia sudah pasrah jika harus mati. Tubuhnya telah sampai ke tanah. Namun,&lt;br /&gt;"Telah mati kah aku ?" Ia mencoba membuka matanya. Lalu terdengar sebuah suara yang terdengar bijak, entah darimana,&lt;br /&gt;"Kau terlalu serakah, setelah dikebulkan permintaan pertama, kau meminta lagi, lagi, dan lagi. Ingatlah yang kau inginkan belum tentu yang terbaik untuk dirimu. Padahal seandainya kau tidak serakah...,"&lt;br /&gt;"Oh...tubuhku mengapa seperti ini?" pemuda itu memperhatikan tubuhnya. warna kulitnya menjadi coklat keemasan. Kaki dan tangannya menjadi kecil dan tipis, kini di hidungnya pun ada dua helai kumis yang memanjang. Di punggungnya yang kini lebih menonjol ada sayap.&lt;br /&gt;Begitu malunya pada Tuhan, ia berlari menuju tempat-tempat gelap untuk bersembunyi. Ia terus berlari menuuju desanya untuk menyembunyikan diri di tempat yang gelap, kotor, lembap, dan bau. Ia beraharap Tuahn tak menemukannya di tempat-tempat seperti itu.&lt;br /&gt;Tapi oleh manusia ia jadi terlihat menjijikan. Hingga suatu hari kakinya tersandung sesuatu. Membuat tubuhnya terlantang diatas punggungnya. Kakinya yang terlalu kecil, pendek dan lemah membuatnya tak kuasa kembali pada posisinya semula. Sebab punggungnya yang dilapisi sayap terlalu tinggi dari kaki dan tangannya. Ia seperti kehabisan nafas. Ia terus meronta-ronta. Sampai akhirnya ia mati kelelahan dan kehabisan nafas dengan mengeluarkan busa-busa putih dari dalam tubuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Begitulah ceritanya teman-teman, Ternyata benar ya, kita memang tak boleh serakah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: ORBIT&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5500752660990257266-5568322474489519636?l=sitiannisaabp.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sitiannisaabp.blogspot.com/feeds/5568322474489519636/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sitiannisaabp.blogspot.com/2010/03/pemuda-yang-serakah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5500752660990257266/posts/default/5568322474489519636'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5500752660990257266/posts/default/5568322474489519636'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sitiannisaabp.blogspot.com/2010/03/pemuda-yang-serakah.html' title='Pemuda yang Serakah'/><author><name>annisyuhuw</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16234192627606919427</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='12' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_-ZdJfOq5Qfo/TVOwV4HPgfI/AAAAAAAAADI/iCVz0b3X_C8/s220/Copy%2Bof%2Bjepreeet%2521%25211401.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5500752660990257266.post-8692001646422545988</id><published>2010-01-08T02:16:00.000-08:00</published><updated>2012-02-02T01:12:50.854-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='dunia saya'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='dunia dongeng'/><title type='text'>Tak ingin lepas</title><content type='html'>tau ga sih betapa hebatnya ade gue. umurnya baru 10 taun tapi udah bisa nyiptain lagu yang menurut gue lagu itu enak banget menurut standar anak sd kelas 5 &lt;s&gt;sedangkan gue bisanya cuma gejreng gejreng ngga jelas alat musik bersenar yang namanya gitar&lt;/s&gt;. ya pokonya, baca aja deh lirik lagu ciptaan ade gue tercintaa &lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;h1&gt;Tak ingin lepas&lt;/h1&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ku jalani hari-hari&lt;br /&gt;kau berpaling dari ku&lt;br /&gt;andai aku bisa memutar&lt;br /&gt;kembali kenangan kita dulu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kini ku kesepian&lt;br /&gt;kini ku sendiri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;reff :&lt;br /&gt;kuingin kau disini&lt;br /&gt;selalu disisiku&lt;br /&gt;tak ingin kau pergi&lt;br /&gt;tak ingin lepas dari ku (2x)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;waktu demi waktu ku jalani&lt;br /&gt;ku melihat kau dengannya&lt;br /&gt;andai aku bisa bersamamu&lt;br /&gt;mengganti dirinya saat ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kini ku kesepian&lt;br /&gt;kini ku sendiri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*back to reff (3x)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;by : ina&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;gimana? kalo menurut gue ya keren .. oke , jadi pengen tau pencipta lagu ini kayak apa .. kayak gini :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_-ZdJfOq5Qfo/S0cMJx0aAGI/AAAAAAAAAAM/9GCeUgc505c/s1600-h/ina+mantap.jpg"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5424317638322552930" src="http://3.bp.blogspot.com/_-ZdJfOq5Qfo/S0cMJx0aAGI/AAAAAAAAAAM/9GCeUgc505c/s320/ina+mantap.jpg" style="cursor: pointer; display: block; height: 320px; margin: 0px auto 10px; text-align: center; width: 240px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;kalo mau mengenal ade saya tinggal klik badge dibawah ini terus add as friend ok!&lt;br /&gt;&lt;a href="http://id-id.facebook.com/people/Siti-Zainab-Bani-Purwana/1438983416" style="color: #3b5998; font-family: &amp;quot;lucida grande&amp;quot;,tahoma,verdana,arial,sans-serif; font-size: 11px; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; text-decoration: none;" target="_TOP" title="Siti Zainab Bani Purwana"&gt;Siti Zainab Bani Purwana&lt;/a&gt;&lt;span style="color: #555555; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: 16px; text-decoration: none;"&gt;&amp;nbsp;|&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://id-id.facebook.com/facebook-widgets/" style="color: #3b5998; font-family: &amp;quot;lucida grande&amp;quot;,tahoma,verdana,arial,sans-serif; font-size: 11px; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; text-decoration: none;" target="_TOP" title="Buat lencana Anda sendiri!"&gt;Buat Lencana Anda&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://id-id.facebook.com/people/Siti-Zainab-Bani-Purwana/1438983416" target="_TOP" title="Siti Zainab Bani Purwana"&gt;&lt;img height="84" src="http://badge.facebook.com/badge/1438983416.978.765510280.png" style="border: 0px;" width="327" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;gitu deh pokonya .. see ya ..&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5500752660990257266-8692001646422545988?l=sitiannisaabp.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sitiannisaabp.blogspot.com/feeds/8692001646422545988/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sitiannisaabp.blogspot.com/2010/01/tak-ingin-lepas.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5500752660990257266/posts/default/8692001646422545988'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5500752660990257266/posts/default/8692001646422545988'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sitiannisaabp.blogspot.com/2010/01/tak-ingin-lepas.html' title='Tak ingin lepas'/><author><name>annisyuhuw</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16234192627606919427</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='12' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_-ZdJfOq5Qfo/TVOwV4HPgfI/AAAAAAAAADI/iCVz0b3X_C8/s220/Copy%2Bof%2Bjepreeet%2521%25211401.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_-ZdJfOq5Qfo/S0cMJx0aAGI/AAAAAAAAAAM/9GCeUgc505c/s72-c/ina+mantap.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5500752660990257266.post-5348441567989004148</id><published>2009-12-14T02:17:00.000-08:00</published><updated>2010-03-20T05:25:30.909-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='dunia dongeng'/><title type='text'>Asal Usul Durian</title><content type='html'>&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CAcer%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="place"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;link rel="themeData" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CAcer%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx"&gt;&lt;link rel="colorSchemeMapping" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CAcer%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves/&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val="--"&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef/&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !mso]&gt;&lt;object classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id="ieooui"&gt;&lt;/object&gt; &lt;style&gt; st1\:*{behavior:url(#ieooui) } &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"Cambria Math"; 	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; 	mso-font-charset:1; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-format:other; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:0 0 0 0 0 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman","serif"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} .MsoChpDefault 	{mso-style-type:export-only; 	mso-default-props:yes; 	font-size:10.0pt; 	mso-ansi-font-size:10.0pt; 	mso-bidi-font-size:10.0pt;} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 72.0pt 72.0pt 72.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-theme-font:minor-fareast; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;Pada zaman dahulu kala, seorang raja bergelar Baron Mai berkuasa di sebuah kerajaan. Raja tersebut memiliki Permaisuri yang masih muda dan sangat cantik. Namun Permaisuri tidak mencintai Raja, karena Raja sudah tua dan buruk rupa.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;Tentu saja Raja sedih. Lalu dia mencari bantuan seorang pertapa dari gunung Ipu.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;Setelah berhari-hari menempuh perjalanan yang berat, akhirnya Raja sampai di gunung Ipu.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;Sang pertapa mendengarkan cerita Raja dengan takzim dan berkata: “Oh, baiklah Paduka, saya akan membantu. Bawakan saja 12 sendok besar susu kerbau, satu telur burung Tabon hitam dan setangkai bunga dari pohon tipuan.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;Raja mengerahkan seluruh kerajaan untuk tugas ini. &lt;st1:place st="on"&gt;Para&lt;/st1:place&gt; petani pen mengumpulkan susu kerbau, kura-kura milik kerajaan menemukan telur burung Tabon, tapi tidak seorang pun menemukan pohon tipuan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;Raja menjadi sangat sedih karenanya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;Tiba-tiba malam itu ada seorang peri yang baik menampakkan diri dan berkata pada Raja. “Bunga tipuan yang Paduka cari itu ada di hutan, dan dikenakan seorang Peri di rambutnya. Tetapi dia tidak akan memberikan bunga itu dengan mudah. Jika Paduka mengikuti saya, maka saya dapat membantu untuk menemukannya.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;Raja kemudian mengikuti Peri terbang di angkasa. Perjalanan mereka sangat jauh, menuju hutan dimana para Peri beristirahat. Sampai disana, peri di angkasa segera cepat berubah menjadi burung kecil bersayap panjang. Dia terbang menukik dan mengambil bunga yang indah di rambut seorang Peri dan membawanya pada Raja.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;Raja sangat gembira. Dia mengumpulkan ketiga bahan ramuan tersebut dan cepat membawanya ke gua dimana pertapa berada. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;Lalu sang pertapa mulai bekerja. Ia mengambil sari madu dari bunga pohon tipuan dan menuangkannya bersama susu kedalam telur. Kemudian dia berkata: “Tanamlah ramuan dalam telur ini ditaman dan biarkan Permaisuri memakan buahnya.,” katanya. “Permaisuri akan jatuh cinta pada Paduka, tetapi ingat, Paduka harus mengundang saya pada saat pesta perayaannya.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;Raja berdebar-debar. Dengan perasaan tidak sabar segera ditanamnya telur di kebun istana. Keesokan harinya, ajaib, ada sebatang pohon besar tumbuh di tempat Raja kemarin menanam telurnya. Buahnya besar-besar dan menerbitkan selera.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;Raja memetik satu dan memberikannya kepada permaisuru. Lalu, tiba-tiba, Permaisuri langsung jatuh cinta pada Raja. Mantra sang Pertapa ternyata ampuh.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;Tentu saja Raja sangat gembira. Sebuah pesta besar diadakan. Seluruh warga kerajaan diundang. Mereka bersuka ria selama tujuh hari tujuh malam. Tetapi dalam kegembiraanya,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Raja lupa akan janjinya untuk mengundang sang Pertapa. Apa yang terjadi kemudian? Karena marahnya terhadap Raja yang tak tahu berterimakasih itu, dia lalu mengutuk buah yang dimakan Permaisuri tadi menjadi buah yang berduri dan berbau tidak sedap. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;Begitulah asal muasal durian. Buah berduri yang berbau tidak sedap, tetapi sangat nikmat rasanya. Siapa pun yang memakannya akan merasakan bahwa dagingnya terasa lembut seperti telur rebus, halus seperti susu dan terasa manis seperti sari madu.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;sumber : ORBIT&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5500752660990257266-5348441567989004148?l=sitiannisaabp.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sitiannisaabp.blogspot.com/feeds/5348441567989004148/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sitiannisaabp.blogspot.com/2009/12/asal-usul-durian.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5500752660990257266/posts/default/5348441567989004148'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5500752660990257266/posts/default/5348441567989004148'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sitiannisaabp.blogspot.com/2009/12/asal-usul-durian.html' title='Asal Usul Durian'/><author><name>annisyuhuw</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16234192627606919427</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='12' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_-ZdJfOq5Qfo/TVOwV4HPgfI/AAAAAAAAADI/iCVz0b3X_C8/s220/Copy%2Bof%2Bjepreeet%2521%25211401.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5500752660990257266.post-5304366090174451919</id><published>2009-12-12T17:58:00.000-08:00</published><updated>2010-03-20T05:26:04.532-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='dunia dongeng'/><title type='text'>Kuburan Gong</title><content type='html'>&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CAcer%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="City"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="country-region"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="place"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;link rel="themeData" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CAcer%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx"&gt;&lt;link rel="colorSchemeMapping" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CAcer%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves/&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val="--"&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef/&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !mso]&gt;&lt;object classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id="ieooui"&gt;&lt;/object&gt; &lt;style&gt; st1\:*{behavior:url(#ieooui) } &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"Cambria Math"; 	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; 	mso-font-charset:1; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-format:other; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:0 0 0 0 0 0;} @font-face 	{font-family:"Arial Unicode MS"; 	panose-1:2 11 6 4 2 2 2 2 2 4; 	mso-font-charset:128; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-134238209 -371195905 63 0 4129279 0;} @font-face 	{font-family:"\@Arial Unicode MS"; 	panose-1:2 11 6 4 2 2 2 2 2 4; 	mso-font-charset:128; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-134238209 -371195905 63 0 4129279 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman","serif"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} .MsoChpDefault 	{mso-style-type:export-only; 	mso-default-props:yes; 	font-size:10.0pt; 	mso-ansi-font-size:10.0pt; 	mso-bidi-font-size:10.0pt;} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 72.0pt 72.0pt 72.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-theme-font:minor-fareast; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;Di Bekasi Timur ada daerah yang bernama Rawa. Dinamakan demikian karena dahulunya daerah itu memang berupa rawa-rawa yang berair. Lalu kemudian ditimbun dengan tanah untuk dijadikan pemukiman.Ditengah-tengah daerah itu ada persawahan yang sangat luas.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Nah, ditengah persawahan itu ada gundukan tanah mengerucut yang lebih tinggi dari tanah-tanah sekitarnya. Tingginya kira-kira satu meter dan panjangnya kurang kebih tiga meter. Di kiri dan kanannya tumbuh pohon beringin yang sudah berumur puluhan tahun. Dilihat dari jauh gundukan tanah dengan dua pohon di kanan-kirinya terlihat seperti kuburan. Penduduk disana menyebutnya Kuburan Gong.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;Banyak versi cerita mengenai Kuburan Gong, tetapi tidak ada yang tahu pasti kebenarannya. Salah satu versi cerita yang menarik tentang Kuburan Gong berkaitan dengan perjuangan rakyat Bekasi saat melawan penjajah Belanda.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;Kabarnya, saat pemerintahan Belanda menduduki &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;, kesengsaraan rakyat terjadi dimana-mana. Rakyat kelaparan, pajak yang tinggi terasa mencekik, rakyat semakin miskin, penyakit merajalela. Di negeri sendiri meraka tak bebas untuk bepergian. &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Ada&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; pekerjaan tanam paksa yang diwajibkan pemerintah Belanda sehingga menimbulkan korban kematian banyak orang.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;Penindasan menimbulkan pemberontakan dimana-mana termasuk di daerah Rawa. &lt;st1:place st="on"&gt;Para&lt;/st1:place&gt; pemuda menyusun strategi untuk melancarkan pemberontakan. Untuk mengelabui pemerintah Belanda beserta mata-matanya, mereka berkumpul di tengah persawahan. Untuk mencegah timbulnya kecurigaan, para pejuang menyamar sebagai penonton pertunjukkan tari dan musik jaipong, tanjidor dan tari topengyang diselenggarakan hampir tiap malam. Itulah hiburan satu-satunya bagi rakyat sekitar yang diperbolehkan saat itu. Apalagi para petinggi penjajah Belanda pun menyenanginya. Mendekati subuh para pejuang itu menghilang, bertepatan dengan berakhirnya acara kesenian itu.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;Rakyat sekitar menyokong perjuangan para pejuang dengan cara masing-masing. &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Ada&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; juragan yang diam-diam menyumbangkan uangnya untuk membeli perlengkapan gamelan. Orang yang ahli memainkan gamelan menyumbangkan tenaga dan keterampilannya. &lt;st1:place st="on"&gt;Para&lt;/st1:place&gt; gadis penari dan penyanyi dengan sukarela tampil diatas pentas tanjidor, sampai menjadi mata-mata bagi para pejuang sambil pura-pura berjualan makanan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;Sementara itu di markas tentara Belanda akhir-akhir itu sering terjadi kegemparan. Seringkali, menjelang subuh tentara Belanda diserang orang-orang yang bertopengkan kain sarung. Beberapa kali markas mereka dibuat porak porandak. Pihak penjajah Belanda mulai gelisah, ketakutan marah, dan merasa diri mereka terancam. Sebagai pelampiasan mereka memeriksa rumah rumah penduduk untuk mencari orang-orangyang menyerang markas mereka. Tak menemukan yang mereka cari, beberapa penduduk lantas disandera sebagai taktik agar para penyerang bertopeng itu muncul. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;Rupanya penyanderaan penduduk sangat berpengaruh pada para pejuang. Setiap malam ditengah-tengah pertunjukan kesenian, mereka membicarakan peristiwa itu dan mencari jalan keluar. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;“Kita harus menunjukkan identitas kita. Kasihan rakyat yang menjadi korban,” kata salah seorang pejuang. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;“Jangan! Perjuangan akan berhenti kalau kita muncul. Meraka akan tetap menyiksa rakyat dan kita juga. Kita pasti menemukan cara lain untuk membebaskan rakyat,” nasehat pejuang yang paling tua diantara mereka.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;“Sepetinya gerakan kita mulai tercium. Hati-hati, mungkin ada mata-mata Belanda disekitar kita.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;“Ya! Kemarin aku mencurigai seseorangn dari warga disini yang menjadi mata-mata belanda.ia sering berkeliaran diantara penonton Tanjidor. Aku pernah melihatnya di markas Belanda. Apakah harus dihentikan untuk sementara waktu?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;“Jangan, kalau dihentikan secara mendadak akan menimbulkan kecurigaan.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;Akhirnya pertunjukkan jaipong, tanjidor dan tari topeng tetap berlangsung di tengah persawahan. Tetapi suasanyanya menjadi terasa mencekam. &lt;st1:place st="on"&gt;Para&lt;/st1:place&gt; pemain musik menjadi tak bersemangat karena memikirkan sebagian anggota keluarga mereka yang ditawan Belanda. Penari yang biasanya menari sambil tersenyum riang, kini terlihat susah mengukir senyum. Sampai tiba-tiba,&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;“Bubarrrrr!!!!!!!!” teriak seseorang diantara kerumunan penonton. “Hentikan pertunjukkan ini!” teriaknya lagi. Ia berpakaina kopiah, bercelana &lt;i style=""&gt;kampret&lt;/i&gt; hitam sampai betis, berkaos putih yang ditutupi oleh kemeja hitam, dipundaknya tergantung kain sarung kotak-kotak. Tampak seperti rakyat sekitarnya. Dibelakang orang itu terlihat barisan tentara Belanda lengkap dengan senapan serta pimpinannya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;“Kurang ajar! Benar dugaanku! Dia mata-mata Belanda!” Bisik salah satu pejuang pada temannya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;“Semua tiarap kalau tidak ingin mati!” teriak mata-mata Belanda itu lagi.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;Tanpa kecuali, semuanya tiarap. &lt;st1:place st="on"&gt;Para&lt;/st1:place&gt; tentara Belanda itu menyebar ke segala arahuntuk memeriksa tempat itu. Sambil menodongkan senapan kea rah wajah orang-orang yang tiarap, para tentara mengisyaratkan mereka bangkit dan berkumpul di suatu tempat.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;“Dari pada semua orang disini mati, lebih baik mengaku saja, hai pemberontakkepada kompeni!’ teriak mata-mata itu.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;Tak ada jawaban, semua diam membisu. &lt;st1:place st="on"&gt;Para&lt;/st1:place&gt; pejuang saat itu seperti harus memakan buah simalakama. Mengakui perbuatan mereka, para penduduk disekitar itu juga pasti akan dibunuh. Tidak mengakui mereka dan penduduk juga pasti akan ditembaki. Seperti yang sering kali sudah terjadi. Suasana tambah mencekam. Pimpinan pasukan Belanda sepertinya sudah tidak sabar lagi. Ia terus mendesak mata-mata itu untuk segera bertindak.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;“Sebentar tuan, para pribumi tidak boleh dikasari. Kalau harga diri mereka sudah terluka, kekuatan mereka akan bangkit dan melebihi kekuatan kita,” bisik mata-mata pada pimpinan tentara Belanda. Tapi tampaknya pimpinan tentara itu tak sabar lagi. Ia mengisyaratkan tembakan keudara untuk menakut-nakuti para penduduk yang ada disana.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;Tanpa diduga, dari arah belakang terdengar teriakan untuk menyerang! Benar saja, rupanya tempat itu telah dikepung oleh para penduduk yang sangat marah. Mereka telah mengikuti para tentara itu sejak melewati rumah-rumah mereka. Keberanian sejati telah muncul akibat dari penindasan yang selama ini mereka terima. Mereka hanya berbekal golok, clurit, dan benda-benda tajam lainnya tak peduli lagi akan tewas saat menghadapi para tentara yang bersenjatakan senapan. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;Ternyata tentara Belanda itu pun tak siap mendapat serangan mendadak. Mereka lari kocar-kacir ketakutan melihat para penduduk yang marah dan tak menghiraukan teriakan komando sang pemimpin. Melihat semua anak buahnya lari, pemimpim tentara Belanda pun ikut-ikutan lari terbirit-birit.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;Namun tetap saja peperangan itu selalu memakan korban. Setelah semua berakhir banyak juga korban tewas dari pihak penduduk. Mereka terkena peluru yang ditembakkan dengan panik oleh para tentara itu. Termasuk beberapa pejuang, para penari dan pemain musik.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;Sebagai penghormatan dan mengenang perjuangan mereka, semua alat-alat musik dikuburkan jadi satu di tempat itu. Kabarnya sering terdengar tabuhan gong dari tempat itu. Kemudian tempat itu dikenal sebagai kuburan gong. Sayangnya sekarang kuburan Gong sudah diratakan. Sebab persawahan itu kemudian dijadikan lokasi perumahan mewah hingga kini. &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;Sumber : ORBIT  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5500752660990257266-5304366090174451919?l=sitiannisaabp.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sitiannisaabp.blogspot.com/feeds/5304366090174451919/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sitiannisaabp.blogspot.com/2009/12/kuburan-gong.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5500752660990257266/posts/default/5304366090174451919'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5500752660990257266/posts/default/5304366090174451919'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sitiannisaabp.blogspot.com/2009/12/kuburan-gong.html' title='Kuburan Gong'/><author><name>annisyuhuw</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16234192627606919427</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='12' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_-ZdJfOq5Qfo/TVOwV4HPgfI/AAAAAAAAADI/iCVz0b3X_C8/s220/Copy%2Bof%2Bjepreeet%2521%25211401.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5500752660990257266.post-42837862724474941</id><published>2009-12-12T17:50:00.000-08:00</published><updated>2010-03-20T05:27:40.993-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='dunia dongeng'/><title type='text'>Tudung Kepala Ajaib</title><content type='html'>&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CAcer%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="City"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="place"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;link rel="themeData" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CAcer%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx"&gt;&lt;link rel="colorSchemeMapping" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CAcer%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves/&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val="--"&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef/&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !mso]&gt;&lt;object classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id="ieooui"&gt;&lt;/object&gt; &lt;style&gt; st1\:*{behavior:url(#ieooui) } &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"Cambria Math"; 	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; 	mso-font-charset:1; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-format:other; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:0 0 0 0 0 0;} @font-face 	{font-family:"Arial Unicode MS"; 	panose-1:2 11 6 4 2 2 2 2 2 4; 	mso-font-charset:128; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-134238209 -371195905 63 0 4129279 0;} @font-face 	{font-family:"\@Arial Unicode MS"; 	panose-1:2 11 6 4 2 2 2 2 2 4; 	mso-font-charset:128; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-134238209 -371195905 63 0 4129279 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman","serif"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} .MsoChpDefault 	{mso-style-type:export-only; 	mso-default-props:yes; 	font-size:10.0pt; 	mso-ansi-font-size:10.0pt; 	mso-bidi-font-size:10.0pt;} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-theme-font:minor-fareast; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;  &lt;div style=""&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CAcer%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;link rel="themeData" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CAcer%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx"&gt;&lt;link rel="colorSchemeMapping" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CAcer%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves/&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val="--"&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef/&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"Cambria Math"; 	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; 	mso-font-charset:1; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-format:other; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:0 0 0 0 0 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman","serif"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} .MsoChpDefault 	{mso-style-type:export-only; 	mso-default-props:yes; 	font-size:10.0pt; 	mso-ansi-font-size:10.0pt; 	mso-bidi-font-size:10.0pt;} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 72.0pt 72.0pt 72.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-theme-font:minor-fareast; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;Alkisah, hiduplah seorang pemudayang rajin bekerja dan baik hati. Saban harinya, ia bekerja mencari kayu bakar untuk kemudian dijual ke pasar. Saban harinya ia pergi ke lading, ke hutan, untuk menebang pohon kemudian dipotong-potong dan diikat. Setelah ia rasa cukup, kayu bakar itu ia pikul lalu dibawa ke pasar. Pulang dari pasar ia akan membawa makanan dan keperluan lainnya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;“Kasihan sekali kamu, biar aku lepaskan perangkap itu,” ucap ucap pemuda itu lirih. Pemuda itu tersentuh hatinya. Ia iba. Ia dekati anak rubah yang terjepit itu. Dengan hati-hati ia lepaskan perangkap kayu tersebut. Perlahan namun pasti, anak rubah itu berdiri, kemudian pergi meninggalkan dirinya. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;“Sekarang kamu telah bebas,pergilah sesuka hatimu,” kata pemuda itu. Beberapa hari kemudian, pemuda tersebut berjalan di tempat yang sama. Ia hendak mencari kayu bakar. Tiba-tiba muncullah anak rubah dihadapannya. Setelah diingat-ingat anak rubah tersebut adalah anak rubah yang tempo hari ia lepaskan dari jepitan perangkap kayu.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;“Hei rupanya kamu telah sehat,” kata Pemuda itu.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;Seolah mengerti anak rubah itu mengangguk.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;“Sekarang, kamu lekas bermainlah &lt;st1:city st="on"&gt;sana&lt;/st1:city&gt; di hutan bebas &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;sana&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;, tapi lebuh hati-hati ya.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;Anak rubah itu menggeleng. Ia mengeluarkan suara seolah minta pemuda itu mengikutinya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;Benar saja, anak rubah itu kemudian mengajak pemuda mengikutinya. Mereka berjalan jauh menembus hutan, menapaki jalan setapak, menerobos belukar hingga tiba di sebuah gua. Anak rubah itu kemudian mengeluarkan suara. Seolah sedang memanggil. Ternyata benar, disaat bersamaan, dari dalam gua muncul rubah besar. Ups, rubah besar itu adalah ibunya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;“Terimakasih anak muda, kamu telah menolong anakku hingga selamat. Aku bahagia sekali. Karena dia anakku satu-satunya,” kata Induk Srigala.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;“Menolong itu sudah merupakan kewajiban,” jawab si Pemuda.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;“Jika manusia punya hati seperti kamu, pasti indah kehidupan ini. Tidak ada lagi hewan yang diburu,” lanjut Induk Srigala.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;“Begitulah seharusnya hidup ini berjalan,” lanjut Si Pemuda lagi.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;“Sebagai ungkapan terimakasih, terimalah tudung kepala tua ini,” &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;Si Induk Srigala menyerahkan sebuah topi unik kepada si pemuda.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;Pemuda tersebut menerimanya dengan senang hati. Ia berpikir tudung kepala tersebut sangat berguna untuk melindungi kepala dari terik panas matahari saat mencari kayu bakar. Kemudian ia melanjutkan perjalanan untuk mencari kayu bakar. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;Tiba-tiba dalam perjalanan, gerimis turun. Pemuda itu segera mengenakan tudung kepala pemberian dari rubah. Aneh bin ajaib, ternyata saat ia mengenakan tudung tersebut, ia bisa mendengar setiap percakapan hewan yang ia temui di perjalanan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;“Pasti ini tudung ajaib,” bisiknya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;Tepat diatas pohon yang tak jauh darinya, sepasang burung pipit tengah berbincang-bincang. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;“Ternyata, manusia yang lewat ke daerah ini semuanya bodoh. Mereka tidak tahu, bahwa&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dibalik batu yang setiap hari mereka lewati setiap hari, ada bongkahan emas,” kata burung pipit.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;“Padahal kalau ada yang menemukannya, bisa menjadi orang paling kaya,” sahut burung pipit yang satunya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;Mendengar pembicaraan itu, pemuda tersebut terkejut sekaligus gembira. Segera ia menuju sungai yang setiap hari ia lewati. Sesampai di &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;sana&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; ia mencari batu yang berada di tengah-tengah sungai. Kemudian ia mendorong batu tersebut, dan ternyata benar dibaliknya terdapat sebongkah emas murni. Emas itu sangat berkilau. Dengan segera, ia mengambilnya kemudian hendak pulang. Ajaibnya lagi, tak jauh dari tempat tersebut, ia mendengar pembicaraan sepasang burung gagak di atas pohon.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;“Kasihan gadis dikampung itu, sampai sekarang belum juga sembuh dari sakitnya,” kata burung gagak.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;“Iya, padahal orangtuanya yang kaya, telah memanggil puluhan tabib,” sahut burung gagak lainnya. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;“Orang tuanya tidak tahu, bahwa gadisnya itu sakit karena ada ular diatap rumahnya. Ular itu sering mematuk menebarkan bisa beracunnya,”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;“Jadi kalau mau anak gadisnya sembuh, ular itu harus dikeluarkan dari rumahnya?” &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;“Betul,” kata burung gagak.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;Keesokan harinya, pemuda tersebut berkunjung ke rumah orang kaya di desa yang cukup jauh dari rumahnya. Sampailah ia di depan sebuah rumah yang besar. Di pagar rumah tersebut terpampang tulisan: “Siapa Saja Yang Ingin Mengobati Anak Kami Silahkan Masuk”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;Pemuda tersebut kemudian masuk dan mengutarakan keinginannya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;“Perkenankan saya membantu menyembuhkan penyakit yang diderita oleh gadis Tuan.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;“Silakan, tentu saja dengan senang hati,” ucap orang tuanya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;Pemuda itu teringat pembicaraan sepasang gagak, bahwa di rumah tersebut terdapat ular di atas rumah mereka yang sering menyemburkan bisanya kepada anak gadis mereka.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;“Sebenarnya, Tuan. Sakit yang diderita anak gadis Tuan karena ular yang terperangkap di atap rumah ini,” ucap pemuda tersebut.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;“Wah, lalu harus bagaimana kita?” tanya si pemilik rumah dengan cemas.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;“Kita keluarkan ular tersebut dari rumah ini. Ingat, jangan dilukai. Kita hanya mengusirnnya saja agar ia hidup bebas kembali di alam,” jelasnya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;“Baiklah, aku setuju.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;Ia segera memerintahkan orang-orang dirumahnya untuk membongkar atap rumah. Benar saja, di tempat tersebut, terdapat ular yang sangat besar. Awalnya mereka terkejut, ketakutan dan ingin membunuh ular yang telah menyebabkan anak gadis tuannya sakit. Mereka telah menghunus senjatanya masing-masing.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;“jangan dibunuh, biarkan saja ia pergi. Kalau kita melukainya, bisa-bisa ia menyerang balik. Sangat bahaya, karena ukuran ular ini sangat besar,” kata si pemuda.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;Mereka menurut permintaan pemuda tersebut. Ular yang besar tersebut mereka giring keluatr rumah. Mereka biarkan ular tersebut perhi menjauh menuju alam bebas. Orang-orangpun bersorak.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;Benar saja, hari berganti hari. Gadis tesebut kembali sehat. Gadis tersebut kembali cantik, kenmbali ceria. Orang tuanya gembira bukan main. Mereka bisa melihat gadis kesayangannya bermain dan bersenda gurau. Tak lama kemudian, mereka ingat sipemuda yang baik hati. Seorang pemuda yang telah berjasa memberikan jalan keluar menyembuhkan penyakit yang diderita gadis mereka. Segera mereka memanggil si pemuda tersebut untuk mengucapkan terimakasih. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;“Anak muda, berkat jasamu, anak gadis kami sehat kembali,” ucap orang kaya tersebut.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;“Saling menolong terhadap sesame, merupakan kewajiban,” sahut si pemuda dengan takzim.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;“Sebagai rasa terimakasih kami, aku ingin menikahkan kamu dengan anak gadis kami,” katanya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;Pemuda tersebut diam saja. Hatinya bersorak, bergembira. Pesta penikahan segera digelar. Orang-orang sekampung diundang untuk ikut merasakan kebahagiaan mereka. Pemuda tersebut sadar sekali, bahwa menolong terhadap sesame pasti akan mendapatkan balasan yang sangat besar.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;Sumber : ORBIT  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5500752660990257266-42837862724474941?l=sitiannisaabp.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sitiannisaabp.blogspot.com/feeds/42837862724474941/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sitiannisaabp.blogspot.com/2009/12/tudung-kepala-ajaib.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5500752660990257266/posts/default/42837862724474941'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5500752660990257266/posts/default/42837862724474941'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sitiannisaabp.blogspot.com/2009/12/tudung-kepala-ajaib.html' title='Tudung Kepala Ajaib'/><author><name>annisyuhuw</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16234192627606919427</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='12' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_-ZdJfOq5Qfo/TVOwV4HPgfI/AAAAAAAAADI/iCVz0b3X_C8/s220/Copy%2Bof%2Bjepreeet%2521%25211401.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
