Selasa, 16 Maret 2010

Raja Bijak dan Seekor Semut

Di zaman mesir kuno, hiduplah seorang raja yang sangat adil dan bijaksana. Ucapannya adalah kebenaran, sementara prilakunya adalah panutan. Karena keadilannya, rakyat Mesir hidup dalam kemakmuran.Rakyat Mesir hidup dalam kebahagiaan yang tiada tara. Kerananya tak heran bila mereka sangat mencintai rajanya tersebut. Dalam menegakkan hukum, raja tidak pernah pilih kasih. Sekalipun ada anggota istana atau keluarga yang berbuat kesalahan,Raja Mesir tersebut tetap memberi hukuman. Karena ketegasan hukum tersebut, tingkat kejahatn di Wilayah mesir kecil sekali.


Selain adil, raja Mesir ini sangat menyukai binatang. Sampai-sampai ia mampu berkomunikasi dengan berbagai jenis binatang. Suatu hari, ia berjalan-jalan mendatangi sebuah lubang semut yang berada di sekitar taman istana. Ternyata dimulut lubang, seekor semut telah menunggu kedatangan Raja bijaksana tersebut. Begitu melihat wajah raja, semut tampak riang gembira.
"Bagaimana kabarmu semut ?" tanya Raja.
"Hamba baik-baik saja, Baginda. Terimakasih telah berkunjung," jawab semut antusias.
"Badanmu tampoak berkeringat dan tampak lelah. Kamu dari mana ?" tanya Raja.
"Sejak pagi, hamba telah pergi ke beberapa tempat tapi belum juga mendapat makanan, Baginda".
"O begitu. Jadi kamu belum makan ?"
"Betul, Baginda" jawab semut.
Baginda raja termenung sejenak. Ia memperhatikan semut yang ada di hadapannya. Tampak memang, wajah semut sedikit pucat.
"Sekarang kamu lapar sekali ya?" tanya Raja
"Tentu Baginda"
"Semut, kalau dijumlahkan, berapa banyak makanan yang kamu perlukan dalam setahun ?"
"Hanya sepotong roti, Baginda"
"Hanya sepotong roti?" Raja meyakinkan.
"Betul Baginda. Bagi manusia, ukuran tersebut tidak seberapa," jelas semut.
"Baiklah kalau begitu. Aku akan memberi kamu sepotong roti."
"Hamba sangat senang. Terima kasih, Baginda"
"Sekarang, kamu akan kubawa ke istanaku," kata Raja
"Hamba menurut saja."

Kemudian Raja Mesir itu memindahkan semut ke tangannya lalu membawanya menuju istana. Semut yang kecil itu sangat gembira karena mendapat perlakuan istimewa dari Raja Mesir. Ia sudah membayangkan bahwa selama setahun kedepan ia tak perlu susah payah mencari makan, karena telah disediakan sepotong roti oleh Raja. Ia membayangkan juga, bahwa roti istana pasti lebih manis dan enak, tidak seperti sisa-sisa makanan yang selama ini ia temukan.
Tiba di istana, Raja Mesir itu membawa semut ke sebuah ruangan.
"Sekarang masuklah kamu kedalam tabung ini. Di tabung ini telah kusimpan sepotong roti jatah untuk makan kamu setahun," jelas Raja.
"Baik Baginda. Hamba akan masuk," jawab semut.
"Setahun yang akan datang, aku akan kembali dan membuka tabung ini."
"Hamba tunggu, Bagunda."

Tabung berisi semut dan sepotong roti itu segera ditutup rapat oleh Raja Mesir. Tak lupa, Raja Mesir tersebut membuat lubang untuk keluar masuknya udara. Kemudian, tabung tersebut disimpan raja dalam sebuah lemari.
Raja Mesir tersebut meninggalkan semut dalam tabung seorang diri. Ia kemudian menjalankan kegiatan istana seperti biasa. Menyelesaikan berbagai persoalan, seperti memberi bantuan kepada rakyat yang datang keistana, menghukum pelaku kejahatan, serta membangun fasilitas keperluan rakyatnya.
Hari terus berganti, tak terasa setahun telah berlalu. Raja Mesir tersebut ingat dengan janjinya. Ia segera memasuki ruangan tempat ia menyimpan tabung yang berisi semut dan sepotong roti. Diambilnya tabung tersebut. Perlahan-lahan ia membuka tutup tabung. dari dalam tabung, muncul wajah semut.
"Bagaimana kabarmu semut?" tanya Raja Mesir.
"Alhamdulillah hamba baik-baik saja," jawab semut.
"Setahun berada di dalam tabung, bagaimana rasanya?"
"Tidak masalah. Hamba menikmatinya."
"Apakah kamu mengalami sakit selama ini ?"
"Tidak baginda. Hamba sehat-sehat saja."

Raja Mesir itu mengamati dengan seksama tubuh semut. Memang, semut itu tetap segar seperti setahun silam. Kemudian ia terkejut ketika mendapati separuh dari sepotong roti yang ia berikan.
"Mengapa roti pemberianku tidak kamu habiskan? Katanya dalam setahun cukup sepotong roti untuk jatah makan. Tapi, kok masih kamu sisakan separuh?" tanya Raja.
"Maaf baginda. Roti itu memang sengaja hamba sisakan. Sebab hamba khawatir kalau-kalau Baginda lupa menemui hamba lagi."
"Oh, begitu"
"Kalau Baginda lupa, hamba masih punya persediaan makan buat setahunnya lagi," jawab semut.

Raja Mesir yang bijaksana tersebut cukup tersentuh dengan penjelasan semut. Semut yang kecil ternyata memiliki pikiran yang lebih jauh. Semut yang kecil tersebut mampu menghemat makanannya demi berjaga-jaga.
"Kamu memang semut hebat," Puji Raja
"Terima kasih, Baginda"
Raja Mesir tersebut dapat mengambil pelajaran dari seekor semut, bahwa hidup hemat itu lebih baik daripada boros.



sumber: ORBIT

Tidak ada komentar:

Posting Komentar