Kamis, 24 Februari 2011

Hasil panen yang gagal (Part 1)

Suatu sore Salman Syarif, Ustadz di mesjid kami bercerita :

Waktu aku muda, banyak anak-anak mengaji padaku di mesjid. Hampir setiap sore sehabis maghrib aku melihat ada seorang anak lelaki duduk disudut mesjid. Ditangannya ada Qur’an kecil, dia tampak membacanya. Tapi kulihat dari sudut mataku, dia Cuma memandangi Qur’an itu, Cuma seolah-olah membaca. Sekali-kali dia mencuri pandang kearah kami, dan mencoba mendengarkan pelajaran.


Setiap kali kami bertatap pandang, dia akan memalis, membuang muka, dan terus pura-pura mengaji.
Demikianlah terjadi berhari-hari. Aneh seklali anak ini. Akhirnya suatu malam seusai shalat Isya, aku mendatanginya.
“Assalamualaikum. Namaku pak Salman Syarif, aku ustadz mengajar mengaji disini.”
Dia mencium tanganku sambil memperkenalkan diri: “Namaku Khalid.”
Dia tampak gembira seklali kudekati.
“Kamu bersekolah dimana, Khalid?”
“Saya kelas enam. Saya suka sekali dengan Qur’an.”
Penjelasannya agak aneh.
“Oh begitu. Mengapa kamu tidak ikut mengaji saja dengan anak-anak yang lain?”
“Mengaji? Boleh?” dia tampak senang sekali. “Saya mau. Alhamdulillah.”
Semalaman aku hampir tidak bisa tidur memikirkan anak itu.

Waktu berlalu …
Subhanallah, betapa cepatnya waktu berlalu. Khalid sekarang jadi santri yang rajin, tak pernah bolos, dan hafalannya bagus. Dia sudah mulai membuka diri, gembira dan mulai berteman dengan santri-santri lainnya. Kemana-mana Al Qur’an tidak pernah lepas dari tangannya. Waktu shalat, dia selalu di shaf terdepan.
Namun kadang-kadang Khalid tampak melamun, pandangannya kosong. Seolah-olah hanya tubuhnya yang ada dekat kami, sukmanya melayang entah kemana. Apa gerangan yang difikirkannya?
Dalam keadaan begitu, kadang-kadang aku menyentuh bahunya, dan dia tergagap-gagap kembali ke alam nyata.

Suatu malam, selepas mengaji kami berjalan-jalan ke pantai. Malam gelap, tak terlihat bulan ataupun bintang. Ombak menderu-deru. Kami berdua diam, suasana kaku.
Tiba-tiba Khalid menjatuhkan dirinya, susuk bersimpuh, dan tersengar ratapan yang memilukan. Dia menangis sambil menutupi muka dengan kedua tangannya. Aku diamkan saja, aku biarkan dia melepaskan semua perasaannya. Tak jelas apa yang dikatakannya.
Kemudian diantara isak tangisnya, dia berkata, :”Saya sayang kepada Ustadz, saya sayang kepada teman-teman. Saya sangat mengagumi Al Qur’an. Tetapi ayahku,… ayahku,… “
“Ayahmu? Kenapa Ayahmu, Khalid?”
“Ayahku selalu melarangku datang ke mesjid. Ayahku melarangku untuk dekat-dekat kalian. Dia ketakutan. Dia membenci kalian semua. Dan dia menyuruhku membenci kalian juga. Dia selalu punya contoh tentang kejelekan Islam.”
Aku masih diam saja. “Tetapi ketika aku menjumpai kalian mengaji di Halaqah, semua gambaran buruk itu ternyata salah. Aku melihat semua bermandikan cahaya. Wajah Pak Ustadz, wajah teman-teman tampak bercahaya. Kata-kata kalian keluar seperti cahaya. Bahkan dalam diam pun kalian bercahaya.”
“Saya mulai tidak percaya kata-kata ayahku. Sejak saat itulah aku mulai datang ke mesjid selepas maghrib, berpura-pura bisa mengaji agar bisa dekat kalian. Aku ingin bisa terlihat bercahaya juga.”

Kuelus bahunya.
“Aku tak bisa lupa saat Ustadz datang mendekatiku. Itulah saat yang bahagia untukku. Ketika aku mulai mengaji, jiwaku seolah-olah sudah bersatu dengan jiwa kalian semua. Aku sudah terbius oleh Al Qur’an. Tidurku sudah tak nyenyak lagi. Setiap saat aku ingin melanjutkan kajiku.”
Dia terisak-isak sekarang.
“Ternyata ayahku melihat perubahan diriku. Dia kemudian juga tahu bahwa aku selalu datang ke mesjid. Dia menuduhku bergaul dengan teroris.”
Kata-katanya tak terbendung.
“Kemudian, pada suatu malam, kami semua duduk di meja makan, menunggu ayah pulang. Tak lama kemudian Ayah datang, mukanya tegang dan menahan marah.
“Kami lalu mulai makan dengan diam. Memang begitu kebiasaan kami, tak pernah berbicara dihadapan ayah. Tiba-tiba suaranya terdengar tajam: Khalid, aku dengar kamu sekarang bergaul dengan kaum fundamentalis!”
“Akh, aku ketahuan! Ayahku tahu aku mengaji! Aku mencoba membela diri, tetapi semua kata-kata tersekat dileherku. Ayah ruoanya tidak menanti jawabanku. Dia mengangkat ketel besar di meja dan melemparkannya kearahku.”
Khalid tampak mengerutkan tubuhnya, dan melanjutkan…
“Mungkin aku pingsan, karena ketika mataku kubuka, aku ada dipelukan ibuku. Ibu mengkompres wajahku dengan kain dingin sambil berbisik memanggil namaku dengan cemas.
‘Tak usah diurus anak itu! Dia menjadikanmu fundamentalis dan teroris juga,’ teriak ayak.
Aku melepaskan pelukan Ibu dan merangkak ke kamarku. Kata-kata kasar ayah terus terdengar.
Sejak hari itu aku terus menerima siksaan, tubuhku dan jiwaku. Aku jadi selalu ketakutan. Tapi rupanya, Ayah belum puas. Suatu hari ketika kami makan malam, ayah berkata : ‘Berdirilah, jangan makan lagi bersama kami.’
Belum sempat aku berdiri, Ayah sudah menghajar aku lagi, melempariku dengan benda-benda yang ada di dekatnya. Aku terjerembab.”
“Dalam kesakitanku itu, aku tiba-tiba merasa tubuhnya lebih tinggi dari ayahku dan berteriak kepadanya: “Satu hari nanti aku akan menbalaskan semua penderitaan ini. Semua deraan ini semua sumpah serapah ini, akan berbalik kepada ayah.”
‘Setelah itu aku minggat. Aku lari, lari terus mengikuti ibu jari kakiku. Akhirnya sampailah aku di pantai ini. Air laut yang dingin terasa menyembuhkan luka tubuh dan luka jiwaku. Aku terus menggenggam Qur’an kecilku, aku mulai mengaji sampai terhenti karena tangisku yang menjadi-jadi.”
Air matanya mengalir lagi, airmata yang tampak bercahaya seperti mutiara, turun satu-satu.



(bersambung)


Hasil Panen yang Gagal (Part 2)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar